Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Wisata Luwu Timur: Kuliner dan Wastra Lokal Jadi Magnet

13 Oktober 2026 • Admin • 14 kali dibaca
Wisata Luwu Timur: pengenalan buah dengen dan permainan tradisional kepada kontingen Sulsel di Pantai Ide Sorowako
Dok. Kominfo Luwu Timur via Expose Timur
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, SOROWAKO — Wisata Luwu Timur tidak hanya soal danau purba dan pantai. Dalam sebulan terakhir, dua hal yang sering dianggap pelengkap justru naik panggung: kuliner dan wastra lokal. Mulai dari buah dengen yang diperkenalkan sebagai identitas daerah, sampai kapurung yang dikenal sebagai kuliner khas Tanah Luwu.

Momentumnya datang dari rangkaian Pekan Expo Koperasi dan UMKM Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026 di Sorowako. Dengen, buah khas Sulawesi yang tumbuh antara lain di kawasan sekitar Danau Matano, diperkenalkan sebagai maskot kegiatan itu di Lapangan Iniaku, Sorowako, Kecamatan Nuha, Selasa (6/10/2026). Peluncurannya dihadiri Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam bersama Wakil Bupati Hj. Puspawati Husler.

Wisata Luwu Timur: Dengen Jadi Wajah Baru Promosi Daerah

Pemilihan dengen sebagai maskot dinilai bukan tanpa alasan. Buah dengan cita rasa asam segar itu merupakan kekayaan hayati khas Sulawesi dan dapat dijumpai di sejumlah wilayah, termasuk kawasan sekitar Danau Matano. Karakter yang sederhana namun punya rasa khas dianggap mewakili identitas lokal Luwu Timur.

Bagi daerah, maskot bukan sekadar simbol seremonial. Ia menjadi alat perkenalan yang mudah diingat, terutama ketika ribuan tamu dari 23 kabupaten/kota bersama kontingen Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berkumpul di Sorowako selama lima hari.

Perkenalan itu tidak berhenti di panggung resmi. Pada Jumat (9/10/2026), di sela lomba Games Estafet di Pantai Ide, Sorowako, Bupati Irwan mengajak para peserta mencicipi dengen dalam suasana santai. Pengenalan berlangsung lewat obrolan ringan, bukan presentasi.

“Silakan ikuti lomba ini dengan gembira, nikmati kebersamaannya. Yang paling penting bukan hanya menang atau kalah, tetapi bagaimana kita bisa bersenang-senang bersama, saling mengenal, dan mempererat silaturahmi,” ujar Irwan.

Cara seperti itu efektif untuk wisata kuliner. Rasa dan cerita yang dialami langsung lebih mudah melekat dibanding informasi yang dibaca sekilas.

Kapurung dan Identitas Kuliner Tanah Luwu

Kalau dengen menjadi wajah baru, kapurung adalah ikon lama yang bertahan lintas generasi. Hidangan berbahan dasar sagu ini dikenal sebagai kuliner khas wilayah Luwu Raya yang meliputi Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

Dalam berbagai pemberitaan, kapurung digambarkan sebagai sagu yang disiram air panas hingga kenyal, dibentuk bulat kecil, lalu dicampur kuah ikan berbumbu asam segar bersama aneka sayuran. Rasa asamnya lahir dari patikala atau bahan asam lain khas hutan Sulawesi, sementara kacang tanah goreng yang dihaluskan membuat kuahnya kental dan gurih.

Sejumlah sumber menyebut kapurung punya sebutan berbeda di wilayah Luwu bagian utara dan selatan, misalnya pugalu dan bugalu. Perbedaan nama itu justru menegaskan bahwa hidangan ini tumbuh dari tradisi yang luas, bukan dari satu dapur tunggal.

Di tingkat kebijakan, pemberitaan Palpos.id menyebut kapurung pernah diusulkan masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Usulan semacam itu penting bagi daerah karena pengakuan budaya biasanya berdampak pada promosi pariwisata dan penguatan pasar produk lokal.

Mengapa Kuliner Berpengaruh pada Kunjungan Wisata

Wisatawan yang datang ke destinasi alam biasanya mencari tiga hal: pemandangan, cerita, dan makanan. Dua yang pertama dimiliki Luwu Timur secara berlimpah melalui Danau Matano, Mahalona, dan Towuti. Yang ketiga sedang dibangun identitasnya.

Kuliner menjadi penting karena ia menyentuh banyak pihak sekaligus. Warung, kedai, pasar, produsen bahan lokal, hingga pengelola penginapan ikut mengambil manfaat ketika ada alasan bagi orang untuk mampir lebih lama.

Ia juga menghadirkan pengalaman yang bisa dibawa pulang lewat oleh-oleh. Di kawasan Nuha, misalnya, produk khas daerah dijual di sejumlah titik, termasuk rumah oleh-oleh yang menyediakan produk lokal untuk dibawa pulang pengunjung.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga