Minggu, 20 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Peristiwa

Viral Luwu Timur: 10 Pemadaman Karhutla dalam Dua Hari

30 Agustus 2026 • Admin
Petugas Damkar Luwu Timur saat menangani karhutla di Malili, Towuti, dan Wasuponda
Gambar: Luwuraya.com

SuaraLutim — Kabar viral Luwu Timur soal kebakaran lahan yang terjadi berulang. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Luwu Timur mencatat 10 operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla selama dua hari, Jumat-Sabtu, 28-29 Agustus 2026.

Kebakaran tersebar di tiga kecamatan, yakni Malili, Towuti, dan Wasuponda. Kondisi cuaca yang panas dan kering membuat lahan lebih mudah terbakar, dan api berpotensi meluas dengan cepat.

Frekuensi kejadian dalam waktu yang berdekatan ini menjadi perhatian, terutama karena beberapa titik muncul di hari yang sama dan di desa-desa yang berbeda.

Viral Luwu Timur: Sebaran 10 Operasi Pemadaman

Pada Jumat, 28 Agustus 2026, personel Damkar menangani lima operasi pemadaman. Tiga di antaranya berlangsung di wilayah Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili.

Lokasi kebakaran di desa tersebut berada di depan SDN Puncak Indah, di belakang Laboratorium Kesehatan, serta satu lokasi lain di desa yang sama. Sementara itu, Pos Damkar Towuti menangani kebakaran di Desa Matompi dan Desa Timampu.

Pemadaman kembali berlanjut pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Pos Damkar Towuti bergerak menangani kebakaran di Desa Wawondula dan Desa Pekaloa. Pos Damkar Wasuponda juga dikerahkan ke Desa Tabarano untuk menangani kebakaran lahan.

Di wilayah Malili, personel Pos Damkar Angkona turut dikerahkan ke Desa Puncak Indah. Artinya, dalam dua hari itu, ada titik-titik api yang muncul kembali di lokasi yang sama.

Operasi terpanjang di Desa Lampia

Salah satu penanganan berlangsung cukup lama di Desa Lampia. Operasi pemadaman dimulai sekitar pukul 13.10 WITA dan baru berakhir pada 22.58 WITA.

Artinya, penanganan di lokasi tersebut memakan waktu hampir sepuluh jam. Durasi sepanjang itu menunjukkan medan dan kondisi api yang tidak mudah dipadamkan.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Luwu Timur, Guntur Hafid, turun langsung memimpin proses pemadaman di lokasi tersebut. Kehadiran pimpinan di lapangan biasanya diperlukan saat operasi menuntut koordinasi lintas pos.

Daftar Lokasi Karhutla 28-29 Agustus 2026

Agar mudah ditelusuri, berikut ringkasan lokasi yang tercatat dalam laporan operasi dua hari tersebut.

Hari Lokasi Pos yang bergerak
Jumat, 28 Agustus 2026 Desa Puncak Indah, Malili (3 lokasi) Personel Damkar
Jumat, 28 Agustus 2026 Desa Matompi, Towuti Pos Damkar Towuti
Jumat, 28 Agustus 2026 Desa Timampu, Towuti Pos Damkar Towuti
Sabtu, 29 Agustus 2026 Desa Wawondula, Towuti Pos Damkar Towuti
Sabtu, 29 Agustus 2026 Desa Pekaloa, Towuti Pos Damkar Towuti
Sabtu, 29 Agustus 2026 Desa Tabarano, Wasuponda Pos Damkar Wasuponda
Sabtu, 29 Agustus 2026 Desa Puncak Indah, Malili Pos Damkar Angkona
Sabtu, 29 Agustus 2026 Desa Lampia (operasi hingga 22.58 WITA) Dipimpin Kadis Damkar

Tabel itu memperlihatkan bahwa beban penanganan tidak terpusat di satu pos. Tiga pos berbeda di tiga kecamatan bergerak pada hari yang sama.

Pola sebaran ini juga menandakan bahwa titik api tidak muncul di satu hamparan besar, melainkan di beberapa lokasi terpisah. Kondisi seperti ini menyulitkan penanganan karena sumber daya harus dibagi.

Mengapa Lahan Mudah Terbakar Saat Kemarau

Musim kemarau membuat kadar air di lapisan permukaan tanah menurun. Tanaman bawah, dedaunan kering, dan sisa ranting menjadi bahan bakar yang mudah tersulut.

Angin yang bertiup kencang mempercepat penyebaran api. Dalam kondisi seperti itu, bara yang terbawa angin bisa memicu titik api baru di lokasi yang cukup jauh dari sumber awal.

Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya soal menyemprotkan air. Petugas juga perlu memastikan tidak ada bara tersisa yang berpotensi menyalakan kembali lahan setelah api utama dipadamkan.

Aktivitas manusia dan pembakaran lahan

Sebagian besar kebakaran lahan berkaitan dengan aktivitas manusia. Pembakaran sampah, pembersihan lahan, atau api unggun yang tidak diawasi menjadi pemicu yang paling sering dijumpai.

Api kecil yang dibiarkan tanpa pengawasan bisa membesar dalam hitungan menit saat rumput dan dedaunan dalam kondisi kering. Terlebih jika lokasinya berdekatan dengan semak belukar.

Karena itu, aktivitas yang melibatkan api di ruang terbuka perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Pastikan api benar-benar mati sebelum meninggalkan lokasi, termasuk bara di bawah abu.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga