Sebanyak 40 warga binaan muslim di sel Kepolisian Resor Luwu Timur mengikuti pembinaan keagamaan yang digelar Dewan Pengurus Cabang (DPC) Wahdah Islamiyah Malili pada Selasa, 17 Juni 2025. Bimbingan disampaikan langsung oleh dai Wahdah Islamiyah Luwu Timur, Ustaz Hasanuddin, S.Pd., mulai dari pengenalan huruf hijaiyah sampai penyadaran untuk memuliakan diri. Bagi Wahdah Lutim, kegiatan itu bukan kunjungan sesaat: DPC Wahdah Islamiyah Malili telah menjadwalkannya sebagai agenda dakwah rutin di Bumi Batara Guru. Pihak Polres Luwu Timur menyatakan pembinaan akan diteruskan.
Wahdah Lutim dan Pembinaan Warga Binaan di Polres Luwu Timur
Pembinaan itu lahir dari kerja sama antara kepolisian dan organisasi keumatan. Wahdah Islamiyah datang bukan untuk memeriksa perkara, melainkan untuk menemani orang-orang yang sedang menjalani proses penahanan agar tetap punya ruang belajar agama. Materi yang dipilih pun mendasar: pengenalan huruf-huruf hijaiyah sebagai pintu pertama membaca Al-Qur’an.
Pesertanya warga binaan muslim yang saat itu ditahan di sel Polres Luwu Timur. Mereka duduk bersama, menyimak, dan mengikuti arahan dai satu per satu. Tidak ada seleksi berdasarkan kemampuan membaca; justru mereka yang belum mengenal huruf hijaiyah menjadi sasaran utama pendampingan.
Pola seperti ini jarang diberitakan karena tidak menghasilkan peristiwa besar. Namun di situlah nilai dari apa yang dijalankan Wahdah Lutim: dakwah hadir di tempat yang jarang dikunjungi juru ceramah, termasuk di balik pintu sel. Kegiatan serupa juga muncul dalam laporan lain tentang gerak sosial Wahdah di Luwu Timur, seperti relawan Wahdah Peduli Nuha saat membantu korban kebakaran di Sorowako.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Dari Huruf Hijaiyah ke Kesadaran Memuliakan Diri
Dalam pertemuan itu, Ustaz Hasanuddin mengajak para warga binaan untuk lebih mengenali diri sendiri dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia menegaskan bahwa sebagai manusia beriman, seseorang semestinya belajar memuliakan dirinya, dan salah satu bentuk pemuliaan itu adalah mencari ampunan Allah.
Pendekatan tersebut berbeda dari ceramah yang menghakimi. Peserta tidak diminta menceritakan perkara yang menjerat mereka, tidak pula diadili dari kursi pengajian. Yang dibangun adalah kesadaran bahwa harga diri seseorang tidak habis karena kesalahan, dan bahwa pintu perbaikan tetap terbuka.
Belajar huruf hijaiyah menjadi pilihan yang masuk akal untuk memulai. Ia sederhana, bisa diikuti siapa saja, dan memberi kemajuan yang terlihat dalam hitungan pertemuan. Bagi sebagian peserta, kemampuan mengenali huruf Arab menjadi pengalaman pertama mereka bisa menyentuh mushaf tanpa rasa minder.
Respons Kepolisian dan Arti Pentingnya bagi Warga Luwu Timur
Pihak kepolisian menyambut baik inisiatif ini. “Kegiatan ini akan kita rutinkan dan lanjutkan terus, dengan harapan agar para warga binaan bisa kembali menjadi pribadi yang baik,” ujar perwakilan Polres Luwu Timur dalam laporan resmi Wahdah.or.id.
Pernyataan itu penting karena menunjukkan pembinaan rohani ditempatkan sebagai bagian dari pembinaan, bukan pelengkap. Warga binaan pada akhirnya akan kembali ke tengah masyarakat Luwu Timur, dan bekal keagamaan menjadi salah satu hal yang membantu mereka menata ulang hidup.
Ada pula pihak lain yang menunggu di rumah: orang tua, pasangan, dan anak-anak. Ketika seseorang menjalani penahanan, keluarga ikut menanggung beban sosial, termasuk rasa malu dan canggung di lingkungan sendiri. Pembinaan yang menumbuhkan kesadaran diri menyentuh dua sisi sekaligus, yaitu individu dan keluarganya.
Karena itu, kerja sama semacam ini layak dilihat sebagai investasi jangka panjang. Ia tidak menjanjikan hasil instan, tetapi menjaga agar proses hukum tidak sekaligus memutus hubungan seseorang dengan ajaran agamanya.


