Tambang nasional kembali menjadi perhatian setelah harga batu bara acuan dunia menembus US$154 per ton untuk kalori tinggi. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan melakukan relaksasi terbatas terhadap kuota produksi batu bara nasional. Pernyataan itu disampaikan usai rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, dan dilaporkan media pada Selasa (20/10/2026).
Tambang Nasional: Harga Batu Bara Tembus US$154 per Ton
Bahlil menyebut harga batu bara untuk tipe kalori 6.330 kcal/kg GAR sudah mencapai US$154 per ton. Menurut paparannya, level itu merupakan yang tertinggi sejak tahun 2023 dan membuka ruang bagi Indonesia untuk mengoptimalkan produksi.
Data pasar yang dihimpun CNBC Indonesia Research menunjukkan harga batu bara dunia pada perdagangan Jumat (16/10/2026) tercatat US$154,6 per ton, naik 1,14 persen dalam sehari. Secara mingguan, harga tercatat melesat 2,72 persen.
Posisi itu disebut yang tertinggi sejak September 2023. Lonjakan harga dipicu kenaikan harga gas serta kekurangan pasokan dari Indonesia, sehingga pembeli di pasar Asia mencari sumber alternatif dengan biaya lebih tinggi.
Harga tinggi membuat penerimaan negara dari sektor mineral dan batu bara berpotensi ikut naik. Pemerintah berharap kenaikan itu berkontribusi lebih besar terhadap devisa dari sektor energi pada periode mendatang.
Relaksasi Terbatas Usai Rapat Terbatas di Istana
Bahlil menyampaikan kebijakan relaksasi itu setelah rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan. Menurutnya, harga yang membaik memberi peluang untuk menaikkan produksi tanpa mengabaikan keseimbangan pasar.
Ia menegaskan relaksasi dilakukan secara terbatas agar pasokan dan permintaan tetap seimbang. Tujuannya, kata dia, supaya harga tidak jatuh sekaligus memberi tambahan devisa bagi negara dalam waktu dekat.
Kebijakan ini menyasar batu bara sekaligus komoditas mineral lain. Pemerintah menyebut penyesuaian dilakukan hati-hati karena produksi berlebih berisiko menekan harga pasar dan merugikan pelaku usaha.
Meski begitu, Bahlil belum merinci bentuk relaksasi yang akan diambil. Ia juga belum menyebut besaran tambahan produksi maupun jadwal penerapan kebijakan tersebut secara pasti.
Target RKAB 2026 Sebesar 600 Juta Ton
Sejak awal, pemerintah menetapkan produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya 2026 sekitar 600 juta ton. Angka itu lebih rendah dibanding realisasi produksi pada 2025 yang tercatat mencapai 790 juta ton.
Penurunan target itu awalnya ditempuh untuk menjaga harga di pasar global. Namun, kondisi pasar berubah cepat ketika permintaan naik dan pasokan dari sejumlah negara produsen mengetat.
Karena itu, pemerintah membuka opsi merevisi volume produksi dalam RKAB tanpa mengubah kerangka kebijakan secara menyeluruh. Penyesuaian hanya akan berlaku jika harga bertahan di level yang menguntungkan.
Bahlil menegaskan kebutuhan domestik harus tetap terpenuhi sebelum produksi ditambah. Prioritas pertama tetap pasokan untuk pembangkit listrik dalam negeri dan kebutuhan industri pengolahan.
Mengapa Harga Batu Bara Melonjak
Kenaikan harga gas global membuat batu bara kembali dilirik sebagai bahan bakar pembangkit yang lebih murah. Pergeseran itu terlihat dari meningkatnya permintaan dari sejumlah negara pengimpor di Asia.
Di sisi pasokan, cuaca ekstrem dan kendala logistik di sejumlah wilayah tambang utama ikut menekan volume pengiriman. Ditambah permintaan musiman, kondisi itu membuat stok di sejumlah pelabuhan menipis.
Indonesia sebagai salah satu pemasok utama dunia pun menanggung ekspektasi pasokan yang lebih besar. Menko Bahlil menyatakan Indonesia belum menjadi penentu harga, sehingga perlu mengatur volume produksi agar lebih selaras dengan kebutuhan pasar global.
Di dalam negeri, harga jual untuk pasar domestik diatur terpisah dari harga global. Perbedaan itu membuat keputusan pemilik tambang untuk menambah produksi bergantung pada kepastian kuota dan harga jual.


