Viral Nusantara hari ini diwarnai pengumuman perluasan hilirisasi ke sektor pertanian. Pemerintah menargetkan fasilitas pengolahan kratom dan kemenyan diresmikan pada Maret 2027. Rencana itu disampaikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan usai rapat terbatas di Istana Merdeka, Selasa 20 Oktober 2026.
Luhut menyebut dua komoditas itu dipilih karena memiliki pasar global dan selama ini dijual dalam bentuk bahan mentah. Presiden Prabowo Subianto direncanakan hadir dalam peresmian bila seluruh persiapan berjalan sesuai rencana. Pemerintah memandang langkah ini sebagai kelanjutan pola hilirisasi yang sebelumnya dijalankan pada nikel.
Pengumuman tersebut menandai pergeseran perhatian kebijakan. Setelah bertahun-tahun fokus pada mineral dan batu bara, pemerintah kini menyasar hasil hutan bukan kayu serta tanaman obat sebagai sumber nilai tambah baru.
Viral Nusantara: Apa yang Diumumkan Pemerintah
Luhut mengatakan ada dua komoditas pertanian yang akan dihilirisasi, yaitu kratom dan kemenyan. Kratom dipilih karena banyak tumbuh di Kalimantan dan dinilai berpotensi menjadi bahan baku industri obat. Kemenyan dipilih karena getahnya menjadi bahan baku parfum, dupa, kosmetik, hingga produk farmasi.
Peresmian dijadwalkan Maret 2027 di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Agenda itu sekaligus menandai beroperasinya pusat riset yang berfokus pada pengurutan genom tanaman lokal. Menurut laporan Tirto, Presiden telah menyetujui perluasan program hilirisasi nasional ke sektor pertanian, dan pasar produk turunan kedua komoditas itu bisa mencapai beberapa miliar dolar.
Ia membandingkan rencana tersebut dengan hilirisasi nikel yang dirintis sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu pengolahan bijih mentah menjadi logam olahan dianggap tidak ekonomis, tetapi kemudian berubah menjadi sektor industri besar. Pemerintah berharap pola serupa berulang pada komoditas pertanian.
Mengapa Kratom dan Kemenyan Dipilih
Kemenyan memiliki pasar yang sudah terbentuk lama dan pembeli yang jelas. Menurut catatan Badan Pusat Statistik, Indonesia mengekspor lebih dari 43 ribu ton kemenyan sepanjang 2024 dengan nilai sekitar US$52 juta. India menjadi pembeli terbesar dengan nilai lebih dari US$22 juta, disusul China sekitar US$4,7 juta, serta sejumlah negara Eropa.
Sentra produksi kemenyan berada di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Luhut menyebut sekitar 30 persen masyarakat di dua wilayah itu menggantungkan hidup dari komoditas tersebut. Areal kemenyan secara keseluruhan diperkirakan berada di kisaran 23 ribu hektare.
Kratom memiliki cerita berbeda karena pasarnya tumbuh dari permintaan luar negeri. Daerah penghasil utama berada di Kalimantan, dengan rantai dagang yang selama ini dikuasai pedagang pengumpul. Nilai tambahnya dinilai masih kecil karena ekspor didominasi bentuk olahan sederhana.
Peluang Nilai Tambah Kemenyan
Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Ganis Lukmandaru, menilai pengolahan kemenyan bisa menaikkan nilai ekonominya secara signifikan. Menurut dia, minyak kemenyan berpotensi bernilai hingga 20 kali lipat dibandingkan getah mentah. Nilai itu masih bisa naik bila diolah menjadi parfum atau dipisah sampai tingkat senyawa tunggal.
Keunggulan kemenyan Indonesia terletak pada aromanya yang khas menyerupai madu. Ciri itu berkaitan dengan kandungan asam sinamat pada getah dari pohon genus Styrax. Kemenyan dari Turki dan kawasan Arab berasal dari genus Boswellia sehingga karakternya berbeda.
Pengolahan sederhana seperti distilasi uap dapat dilakukan tanpa pabrik besar. Menurut Ganis, getah padat dipanaskan, komponen yang menguap kemudian didinginkan menjadi minyak. Pola itu meniru pengembangan industri turunan getah pinus yang lebih dulu berjalan di Jawa.
Kesiapan Riset dan Teknologi Genome Sequencing
Pusat riset di kawasan Toba dirancang untuk meneliti sifat tanaman lokal bernilai tinggi. Pengurutan genom membantu pemetaan kandungan aktif, pemilihan bibit unggul, dan penentuan standar mutu bahan baku. Fasilitas itu menjadi bagian dari rencana peresmian pada Maret 2027.
Bagi eksportir, standar mutu bukan urusan kecil. Sejumlah pengiriman komoditas pernah ditolak di negara tujuan karena persoalan kebersihan dan kontaminasi. Riset yang rapi dinilai dapat menekan risiko penolakan sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia.
Pemerintah menyebut persiapan masih berjalan dan belum memerinci anggaran maupun lokasi tepat fasilitas pengolahan. Program ini menjadi bagian dari rangkaian proyek hilirisasi senilai Rp225 triliun yang sudah berjalan di sektor mineral. Kepastian biaya itu penting bagi pelaku usaha yang perlu menghitung investasi dan jangka waktu pengembalian modal.


