SUARALUTIM.COM, MALILI — Luwu timur mencatat satu agenda pendidikan keagamaan pada akhir Oktober. Wakil Bupati Luwu Timur, Hj. Puspawati Husler, bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Luwu Timur, Rusdidaming, menghadiri Haul ke-6 almarhum Dr. KH. Abdul Aziz Rajmal, M.HI., pendiri Pondok Pesantren Nurul Junaidiyah Lauwo, Ahad (25/10/2026).
Haul itu bukan sekadar agenda doa bersama. Rangkaian acara dirangkai dengan peresmian bantuan PHTC dan digital class, serta penanaman bibit pohon alpukat di lingkungan pesantren. Tiga hal yang tampak berbeda itu sebenarnya satu tarikan napas: mengenang pendiri, memperkuat sarana belajar, dan merawat lingkungan sekitar.
Dalam kegiatan itu, Rusdidaming didampingi Kepala Seksi Pendidikan Islam, Rabiah, dan Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Muh. Yunus.
Luwu Timur dan Peran Pesantren dalam Pendidikan
Pesantren di Luwu Timur bukan lembaga baru. Sejumlah pondok memiliki sejarah panjang dan menjadi rujukan keluarga di sekitarnya, terutama untuk pendidikan agama dan pembinaan karakter anak.
Pondok Pesantren Nurul Junaidiyah Lauwo termasuk yang paling sering disebut dalam konteks itu. Pendirinya, KH. Abdul Aziz Rajmal, dikenang sebagai tokoh yang membangun lembaga pendidikan dari skala kecil hingga menjadi bagian dari lanskap pendidikan keagamaan di kabupaten ini.
Karena itu, haul ke-6 dihadiri kalangan yang cukup luas: jajaran pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, civitas akademika IAIN Palopo, Kepala Cabang BSI Tomoni, perwakilan MUI Luwu Timur, para Kepala KUA, pimpinan pondok pesantren, kepala madrasah, dan tokoh masyarakat setempat.
Komposisi itu memperlihatkan satu hal: pesantren tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan kantor urusan agama, madrasah, perguruan tinggi keagamaan, dan pemerintah daerah.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Pesan untuk Melanjutkan, Bukan Hanya Mengenang
Rusdidaming menyampaikan bahwa haul bukan hanya momen mengenang sosok yang telah wafat, tetapi juga kesempatan meneladani pengabdian dan melanjutkan perjuangan almarhum.
“Beliau adalah sosok mulia yang semasa hidupnya penuh dengan dedikasi. Hari ini, kita semua adalah saksi dari ketulusan doa-doa beliau. Tugas kita sekarang adalah menjaga warisan dan melanjutkan perjuangan beliau dalam merawat pesantren ini, serta bersama-sama mencetak generasi Qurani yang membanggakan,” pesannya.
Ia juga menguraikan empat hikmah pelaksanaan haul. Pertama, zikrul maut atau mengingat kematian sebagai pengingat kehidupan akhirat. Kedua, keikhlasan dalam membina umat. Ketiga, mempererat silaturahmi. Keempat, meningkatkan rasa syukur atas limpahan berkah dan dukungan fasilitas pendidikan.
Bagi keluarga besar pesantren, keempat poin itu bukan konsep abstrak. Mengingat kematian berbicara soal keberlanjutan lembaga; keikhlasan berbicara soal guru yang bertahan meski upah tidak besar; silaturahmi berbicara soal jaringan alumni dan wali santri; sedangkan rasa syukur berbicara soal cara lembaga mengelola bantuan yang datang.
Digital Class dan Bantuan PHTC
Salah satu bagian acara adalah peresmian secara simbolis bantuan PHTC dan digital class. Menurut laporan Kilaspubliknews.com, bantuan itu diharapkan mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di lingkungan pesantren.
Bantuan semacam ini terlihat teknis, tetapi dampaknya langsung. Kelas digital membutuhkan perangkat, jaringan, dan listrik yang stabil. Guru juga perlu waktu untuk menyesuaikan cara mengajar, karena materi yang biasanya disampaikan di papan tulis harus dipindahkan ke layar.
Di pesantren, tantangannya berlapis. Selain mata pelajaran umum, ada pelajaran kitab yang menuntut teks dan hafalan. Teknologi tidak menggantikan metode itu, tetapi bisa membantu dalam pencatatan setoran hafalan, pengarsipan materi, dan komunikasi dengan wali santri.
Yang Menentukan Keberhasilan
Pengalaman banyak lembaga menunjukkan tiga faktor penentu. Pertama, perangkat yang dirawat, bukan hanya disediakan. Kedua, pelatihan guru yang berkelanjutan, bukan sekali pakai. Ketiga, kebijakan penggunaan yang jelas, termasuk pembatasan agar perangkat tidak dipakai untuk hal di luar pembelajaran.
Tanpa tiga hal itu, bantuan perangkat cenderung berhenti sebagai inventaris. Karena itu, peresmian sebaiknya dibaca sebagai awal pekerjaan, bukan akhir.


