Berita viral dari dunia antariksa: Observatorium Swift milik NASA diperkirakan jatuh ke Bumi pekan ini. Teleskop tua itu tidak lagi mampu bertahan di orbit setelah upaya penyelamatan darurat dinyatakan gagal. Sebagian besar serpihannya diprediksi jatuh ke laut.
U.S. Space Force memperkirakan teleskop tersebut masuk atmosfer pada Jumat, 6 November 2026, atau sekitar waktu itu. Jalur jatuhnya masih terus dihitung ulang karena orbitnya menyusut. Aktivitas Matahari yang intens disebut mempercepat penurunan ketinggian.
Swift bukan benda langit biasa. Selama 22 tahun ia menjadi mata pertama yang menangkap ledakan paling terang di alam semesta. Kini instrumennya sudah dimatikan dan tugasnya berpindah ke teleskop generasi berikutnya.
Berita Viral: Swift Jatuh Setelah 22 Tahun Mengorbit
Observatorium Swift diluncurkan pada 20 November 2004. Sejak itu ia mengorbit Bumi di ketinggian rendah dan mengamati semburan sinar gamma. Misi awalnya dirancang beberapa tahun, tetapi berlangsung lebih dari dua dekade.
Pada akhir Oktober, ketinggian orbitnya menurun drastis dan sikap wahana kehilangan kestabilan. Tim pengendali akhirnya mematikan sistem teleskop. Keputusan itu menutup misi ilmiah yang panjang.
Menurut astronom yang memimpin tim pengendali, akhir seperti ini sudah diperkirakan sejak awal. Apa pun yang diluncurkan ke orbit rendah pada akhirnya akan kembali ke atmosfer. Rincian laporan itu dimuat di CNN Indonesia.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Jadwal Jatuh Menurut U.S. Space Force
Prediksi resmi menyebut waktu jatuh pada Jumat, 6 November 2026. Namun prediksi masuk atmosfer selalu punya rentang ketidakpastian. Perubahan kerapatan atmosfer dapat menggeser waktu hingga beberapa jam.
U.S. Space Force menyatakan sedang melacak jalur jatuh teleskop yang semakin mengecil. Pelacakan dilakukan dengan radar dan data orbit terbaru. Semakin dekat waktu jatuh, semakin sempit area yang diperkirakan terkena.
Sebagian besar serpihan diperkirakan jatuh ke lautan. Wilayah daratan yang mungkin dilintasi berada di Afrika, Australia, India, Asia Tenggara, serta Amerika Tengah dan Selatan. Indonesia termasuk dalam jalur lintasan yang dipantau.
Wilayah yang Masuk Zona Jatuh
Zona jatuh bukan berarti seluruh wilayah tersebut akan terkena serpihan. Peluang serpihan mengenai permukiman sangat kecil. Sebagian besar material terbakar habis saat melewati atmosfer.
Meski begitu, otoritas penerbangan biasanya mengeluarkan peringatan sementara di jalur lintasan. Peringatan itu bersifat pencegahan, bukan tanda bahaya nyata. Langkah serupa pernah dilakukan saat stasiun luar angkasa menurunkan sampahnya.
Rubrik ini pernah membahas kasus serupa ketika puing roket China jatuh di kebun sawit, bisa dibaca di laporan ini. Peristiwa itu menunjukkan serpihan antariksa memang bisa mencapai permukaan. Namun kerusakan besar akibat serpihan tunggal tergolong langka.
Upaya Penyelamatan yang Gagal
NASA bersama Katalyst Space berupaya menyelamatkan Swift sejak tahun lalu. Rencananya, sebuah robot akan mendorong teleskop ke orbit yang lebih tinggi. Misi itu menjadi harapan terakhir untuk memperpanjang usia wahana.
Robot bernama Link diluncurkan pada Juli 2026. Ia gagal menjalankan tugas setelah mengalami masalah teknis. Link hanya mampu mendekati teleskop hingga jarak 12 sampai 15 kilometer sebelum akhirnya jatuh kembali ke Bumi pada September.
Kegagalan itu membuat pilihan NASA menyempit. Tanpa kemampuan mengangkat orbit, penurunan ketinggian tidak bisa dihentikan. Rincian kronologi misi penyelamatan diuraikan di Media Indonesia.
Aktivitas Matahari Mempercepat Penurunan Orbit
Matahari sedang berada dalam fase aktivitas tinggi. Ledakan dan lontaran massa korona memanaskan atmosfer bagian atas. Atmosfer yang mengembang menambah hambatan pada wahana di orbit rendah.
Hambatan itu membuat kecepatan orbit berkurang sedikit demi sedikit. Ketika kecepatan turun, ketinggian ikut menurun, dan hambatan bertambah besar. Proses ini berlangsung seperti lingkaran yang makin cepat.
Itulah sebabnya beberapa satelit tua jatuh lebih cepat dari perkiraan. Fenomena ini juga dialami sejumlah wahana lain dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas Matahari menjadi faktor yang sulit dikendalikan dari Bumi.


