Kamis, 5 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Viral Nusantara: Siswa Cianjur Belajar di Bawah Terpal

3 November 2026 • zul • 27 kali dibaca
Ilustrasi bangunan sekolah dasar negeri di Kuningan, Jawa Barat, bukan SDN Karyamukti di Cianjur
Syam Ciremai, CC BY-SA 3.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Viral Nusantara kali ini datang dari sebuah sekolah dasar di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Puluhan siswa SDN Karyamukti sudah tiga tahun belajar di ruang kelas beratap terpal tanpa dinding. Ruang darurat itu berdiri di halaman sekolah karena dua ruang kelas mereka ambruk akibat gempa pada 2022.

Kondisi SDN Karyamukti Hari Ini

Sekolah yang berdiri sejak 1965 itu memiliki enam ruangan, terdiri dari lima ruang kelas dan satu ruang guru. Kini hanya empat ruang kelas yang bisa dipakai, dan kondisinya tidak layak. Dua ruang lainnya rusak nyaris rata dengan tanah.

Ruang kelas darurat berukuran 6 x 4 meter persegi didirikan untuk menampung siswa kelas 5 dan 6. Tidak ada dinding penyekat, hanya papan tulis putih yang sudah rusak sebagai pembatas antarkelas.

Ketika hujan turun, kegiatan belajar sering dihentikan sebelum waktunya. Pada musim kemarau, siswa mengeluh karena atap terpal menahan panas dan membuat ruangan pengap.

Tata Atur
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Viral Nusantara: Kelas Beratap Terpal di Halaman Sekolah

Pemandangan itu terlihat setiap pagi. Puluhan siswa berseragam putih merah berjalan menuju sekolah, lalu sebagian masuk ke bangunan tua dan sebagian lain duduk di bawah terpal. Mereka tetap bersemangat meski ruang belajarnya jauh dari layak.

Kisah ini dilaporkan ANTARA pada Selasa, 3 November 2026, dengan foto kegiatan belajar bertanggal 27 Oktober 2026. Laporan itu menyebut 60 siswa hanya dapat memanfaatkan empat ruang kelas.

Media lain juga menyorot kondisi serupa. Liputan6.com menulis tentang siswa SD di Cianjur yang tiga tahun belajar di tenda darurat karena ruang kelas mereka hancur akibat bencana alam.

Empat Ruang Kelas yang Rawan Ambruk

Siswa kelas 1 sampai kelas 4 masih memakai empat ruang kelas yang tersisa. Dinding bangunan dipenuhi retakan, dari kerusakan kecil sampai retakan besar yang terlihat di hampir seluruh ruangan.

Bagian atap juga bermasalah. Sejumlah genting pecah atau bergeser sehingga menyisakan lubang tanpa langit-langit. Ketika langit mendung, pihak sekolah memilih menghentikan kegiatan belajar daripada mengambil risiko.

Kondisi itu membuat proses belajar tidak pernah tenang. Guru harus menyiapkan rencana cadangan setiap hari, dan siswa terbiasa dengan jam belajar yang berubah mendadak mengikuti cuaca.

Dampak Gempa 2022 yang Belum Tuntas

Gempa berkekuatan magnitudo 5,6 pada 2022 menjadi titik awal kerusakan. Dua ruang kelas rusak nyaris rata dengan tanah, sedangkan empat ruang lainnya mengalami kerusakan sedang hingga berat.

Sejak saat itu, belum ada perbaikan menyeluruh. Bangunan yang semula rusak sedang makin memburuk, dan sebagian yang rusak berat sebenarnya sudah tidak layak dipakai. Namun ruang-ruang itu tetap dimanfaatkan karena sekolah belum punya fasilitas pengganti.

Empat tahun berlalu, tetapi bekas gempa masih terlihat setiap hari. Bagi warga sekolah, itu bukan lagi peristiwa, melainkan kondisi yang harus dijalani.

Suara Kepala Sekolah

Kepala SDN Karyamukti, Ninu Parwati, menggambarkan kondisi itu dengan sederhana. Ketika cuaca mendung, kelas sudah pasti dibubarkan karena ruangan yang tersisa makin rusak, terutama pada bagian atap.

Saat kemarau, keluhan datang dari siswa. Mereka kepanasan di ruang beratap terpal dan kesulitan mengikuti pelajaran pada siang hari.

Keterangan itu disampaikan kepada ANTARA pada akhir Oktober 2026. Dari penuturan kepala sekolah, persoalannya bukan hanya bangunan, tetapi juga hilangnya waktu belajar yang seharusnya diterima siswa setiap hari.

Data Disdikpora Cianjur

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cianjur mengakui besarnya persoalan ini. Menurut keterangan yang dikutip ANTARA, lebih dari 7.000 ruang kelas di wilayah itu rusak akibat dimakan usia.

Setiap tahun, sekitar 100 sampai 200 ruang kelas diperbaiki. Untuk tahun berikutnya, dinas menargetkan angka perbaikan bisa meningkat menjadi sekitar 500 ruang kelas dari berbagai sumber anggaran.

Dengan jumlah kerusakan di atas 7.000 ruang, kecepatan perbaikan itu berarti pekerjaan rumah besar masih tersisa. Sebagian sekolah harus menunggu bertahun-tahun sebelum masuk giliran.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga