Kamis, 5 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Kesehatan

Luwu Timur: Kader Desa Ujung Tombak Aksi Stop Stunting

4 November 2026 • Admin • 14 kali dibaca
Wakil Bupati Luwu Timur Puspawati Husler menghadiri peluncuran Aksi Stop Stunting 2026 di Makassar
Gambar: Dok. Diskominfo-SP Luwu Timur via Luwuraya.com
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Wakil Bupati Luwu Timur, Puspawati Husler, menempatkan kader sebagai ujung tombak penurunan stunting di Luwu Timur. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri peluncuran Aksi Stop Stunting (ASS) 2026 di Aula Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (3/11/2026). Kegiatan itu digelar secara daring dan luring, diikuti kepala daerah se-Sulawesi Selatan, jajaran OPD provinsi, serta kepala dinas kesehatan kabupaten dan kota.

Dalam forum tersebut, Puspawati menegaskan bahwa keberhasilan program tidak ditentukan oleh seremoni peluncuran, melainkan oleh kerja harian kader di tingkat desa dan kelurahan. Menurutnya, kader adalah pihak yang paling dekat dengan keluarga sasaran, sehingga kualitas pendampingan mereka menentukan apakah intervensi gizi benar-benar sampai ke rumah tangga yang membutuhkan.

Luwu Timur: kader desa dan beban kerja yang nyata

“Kita harus mendorong para kader agar kegiatan Aksi Stop Stunting ini berjalan maksimal. Dukungan pemerintah daerah terhadap kader juga harus menjadi perhatian sehingga pendampingan kepada keluarga sasaran dapat berjalan optimal,” ujar Puspawati, seperti dikutip Luwuraya.com.

Kalimat itu menyentuh persoalan yang jarang dibahas terbuka. Kader posyandu dan kader pembangunan manusia di desa umumnya bekerja dengan beban administrasi yang berat: menimbang, mencatat, mengolah data, mengikuti rapat, dan mendampingi keluarga. Ketika dukungan pemerintah daerah tidak jelas, pekerjaan itu cenderung mengandalkan kesukarelaan, dan kualitasnya sulit dijaga dalam jangka panjang.

Tata Atur
Iklan

Karena itu, agenda ASS 2026 perlu dibaca sebagai ajakan menata ulang dukungan, bukan sekadar menambah kegiatan. Bentuk dukungan yang paling sering diminta kader di berbagai daerah meliputi pelatihan teknis pengukuran, ketersediaan alat antropometri yang layak, kejelasan insentif, serta penyederhanaan pelaporan. Tanpa itu, imbauan agar kader bekerja maksimal akan berhenti sebagai harapan.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Tiga hal yang diminta Gubernur dari kader

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menekankan tiga hal utama bagi kader dalam menjalankan program ini. Pertama, memahami data sasaran. Kedua, mempelajari kondisi dan latar belakang keluarga. Ketiga, mengetahui tindakan yang tepat sesuai kebutuhan.

Urutan itu masuk akal secara teknis. Data sasaran menentukan siapa yang harus didatangi. Latar belakang keluarga menjelaskan mengapa seorang anak berisiko stunting, apakah karena asupan gizi, akses air bersih, sanitasi, pola asuh, atau kondisi ekonomi. Tindakan yang tepat baru bisa dipilih setelah dua hal pertama dipahami.

Dalam praktik lapangan, tiga langkah itu menuntut alat kerja yang konsisten. Kader perlu daftar sasaran yang mutakhir, formulir yang sederhana, serta jalur rujukan yang jelas ketika menemukan kasus yang butuh penanganan tenaga kesehatan. Tanpa jalur rujukan, temuan di posyandu mudah berhenti sebagai catatan.

Bukan hanya urusan kesehatan

Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Naoemi Octarina Sudirman, menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak cukup melalui intervensi kesehatan. Ia menyebut edukasi keluarga, pemenuhan gizi, pendampingan ibu hamil, dan peningkatan kesadaran pola hidup sehat sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Ia juga menyebut dua kekuatan utama gerakan ini: intervensi bidang kesehatan dan pemberdayaan masyarakat melalui Tim Penggerak PKK. Penggabungan dua pendekatan itu penting karena penyebab stunting bersifat majemuk. Anak bisa lahir dengan berat badan lahir rendah bukan hanya karena asupan gizi ibunya kurang, tetapi juga karena akses air bersih dan sanitasi yang buruk, jarak kelahiran yang dekat, atau lingkungan rumah yang tidak sehat.

Pada kesempatan itu juga dilakukan penyerahan Paket Intervensi ASS 2026 bagi balita dan ibu hamil. Paket semacam ini biasanya menjadi pelengkap, bukan pengganti, pendampingan rutin. Nilainya terletak pada ketepatan sasaran: paket yang sampai ke keluarga yang tepat akan berbeda dampaknya dibanding paket yang dibagikan tanpa dasar data.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga