Minggu, 20 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Ekonomi & UMKM

Berita Lutim: Garam Pangkep, 700 Hektare Lahan Tergarap

17 September 2026 • Admin
Ilustrasi panen garam rakyat di kawasan penggaraman Pangkep, berita lutim soal potensi garam daerah
Gambar: Pedoman Rakyat

Asumsi 50 Ton per Hektare dan Proyeksi Ratusan Ribu Ton

Dalam penjelasannya, Bupati menyampaikan asumsi produktivitas sekitar 50 ton garam dalam satu musim untuk setiap hektare. Dengan asumsi itu, potensi produksi dari lahan yang tersedia disebut bisa mencapai ratusan ribu ton.

“Kalau satu hektare menghasilkan 50 ton per musim, kalau dikalikan, ada ratusan ribu ton yang bisa kita hasilkan. Ini bisa berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat,” kata Yusran.

Perlu dicatat bahwa angka tersebut adalah asumsi perhitungan potensi, bukan realisasi produksi. Realisasi tahun berjalan masih berada pada kisaran puluhan ton di satu kawasan, sehingga jarak antara potensi dan capatan menjadi pekerjaan rumah bersama.

Karena itu, pemerintah daerah menyatakan mendorong peningkatan produktivitas lahan sekaligus kualitas hasil garam. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada penambahan volume, tetapi juga pemanfaatan teknologi dan pengelolaan usaha agar memberi nilai tambah bagi petani.

Peningkatan kualitas menjadi penting karena harga garam rakyat sangat dipengaruhi mutu hasil. Garam dengan kadar yang lebih baik dan proses produksi yang lebih terkendali memiliki peluang lebih besar menembus pasar yang lebih luas.

Bantuan Geomembran untuk Kelompok Petani Garam

Salah satu bentuk dukungan yang berjalan adalah bantuan geomembran kepada kelompok petani garam. Menurut Arsyad, pada 2026 terdapat 31 kelompok yang menerima bantuan, sementara pada 2025 tercatat 50 kelompok penerima.

“2026 ada 31 kelompok yang dapat bantuan, tahun 2025 ada 50 kelompok. Alhamdulillah, perhatian pemerintah sangat besar kepada petambak garam,” katanya.

Geomembran membantu petani pada proses produksi, terutama dalam pengelolaan lahan dan peningkatan kualitas garam yang dihasilkan. Dengan lapisan tersebut, air dan hasil produksi lebih terkendali sehingga rendemen serta mutu garam berpeluang naik.

Bantuan itu diharapkan mendorong petani mengoptimalkan lahan yang dimiliki agar produktivitas garam semakin meningkat. Pemerintah juga mengingatkan agar bantuan dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung usaha, bukan dialihfungsikan.

“Kami titipkan kepada masyarakat untuk memanfaatkan bantuan dengan baik. Kita harap perekonomian keluarga meningkat,” ujar Yusran.

Mengapa Kisah Garam Pangkep Relevan Dibaca dari Luwu Timur

Kisah pengembangan garam rakyat di Pangkep memberi gambaran tentang cara daerah memaksimalkan potensi pesisir berbasis sumber daya lokal. Pola yang terlihat mencakup pemetaan kawasan, penyaluran sarana produksi, dan pendampingan kelompok tani.

Pendekatan semacam itu sejalan dengan pembahasan ekonomi daerah yang selama ini menjadi perhatian di kanal Ekonomi & UMKM SuaraLutim, termasuk saat membahas pemetaan sektor potensial untuk memacu ekonomi daerah. Pemetaan yang rapi membuat program bantuan tidak tersebar tanpa arah.

Di sisi lain, cerita petani yang bertahan di sektor produksi juga muncul dalam liputan lain, seperti kisah petani merica di Towuti. Yang menjadi pelajaran bersama adalah pentingnya pendampingan berkelanjutan, bukan hanya bantuan sesaat.

Bagi pelaku usaha kecil, kepastian pasokan bahan baku lokal juga menentukan daya saing. Ketika produksi garam rakyat tumbuh, rantai nilai di tingkat desa ikut terbuka, dari pengemasan hingga distribusi ke pasar kecamatan.

Tantangan Produktivitas dan Agenda Selanjutnya

Persoalan utama yang masih mengemuka adalah bagaimana menaikkan produktivitas sekitar 700 hektare lahan yang sudah tergarap. Peningkatan hasil per hektare lebih cepat berdampak pada pendapatan petani dibandingkan perluasan lahan yang membutuhkan biaya besar.

Musim juga menjadi faktor penentu. Produksi garam sangat bergantung pada cuaca dan pengelolaan air, sehingga kemampuan adaptasi petani menjadi kunci pada periode yang kurang menguntungkan.

Pemerintah daerah menyatakan masih memiliki ruang untuk memperluas produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga petani garam. Perluasan itu dinilai perlu berjalan bersama penguatan kelembagaan kelompok agar hasilnya bertahan dalam jangka panjang.

Pekerjaan berikutnya adalah memastikan setiap kelompok penerima bantuan memiliki catatan produksi yang tertib. Data yang rapi memudahkan evaluasi dan menjadi dasar penentuan intervensi lanjutan pada musim-musim berikutnya.

Rantai Nilai dan Mutu Garam Rakyat

Nilai tambah garam rakyat tidak hanya ditentukan saat panen. Cara penanganan setelah panen, pengemasan, hingga distribusi ke pasar turut memengaruhi harga yang diterima petani.

Karena itu, pengembangan usaha garam tidak berhenti pada penambahan luas lahan. Pemerintah daerah menyebut perlunya pengelolaan usaha yang lebih baik agar hasil produksi memberi keuntungan yang layak bagi petani.

Pada sisi permintaan, garam olahan dibutuhkan industri pengolahan pangan maupun usaha rumah tangga. Ketika pasokan lokal bisa memenuhi standar mutu, peluang kerja sama dengan pembeli yang lebih stabil ikut terbuka.

Faktor Musim dan Pengelolaan Lahan

Selain luas lahan, musim menjadi penentu volume produksi garam. Pengelolaan lahan dan saluran air yang tertata membuat produksi lebih terukur pada musim yang mendukung.

Penyerapan teknologi sederhana, seperti pemanfaatan lapisan geomembran, membantu petani menjaga kualitas sekaligus mengurangi kehilangan hasil. Pendampingan teknis menjadi kunci agar teknologi yang diadopsi sesuai kondisi lahan.

Dengan potensi lahan sekitar 1.400 hektare dan sekitar separuhnya telah tergarap, pemerintah daerah masih memiliki ruang untuk memperluas produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga petani garam. Yang dibutuhkan adalah kesinambungan program antarmusim.

FAQ Garam Rakyat Pangkep

Berapa luas lahan penggaraman yang sudah tergarap di Pangkep?

Dari sekitar 1.400 hektare potensi lahan penggaraman, sekitar 700 hektare telah tergarap dan terus dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.

Berapa produksi garam yang dicatat hingga Agustus 2026?

Petani garam di Kelurahan Bori Masunggu, Kecamatan Labakkang, tercatat telah memanen sekitar 12 ton garam olahan hingga Agustus 2026.

Di mana saja kawasan potensi penggaraman di Pangkep?

Menurut Dinas Perikanan dan Kelautan Pangkep, terdapat tiga kawasan potensi penggaraman, yakni Kecamatan Labakkang, Ma’rang, dan Bungoro.

Penutup

Kabar dari Labakkang ini menunjukkan bahwa potensi pesisir masih menyimpan ruang tumbuh bila dikelola dengan data dan pendampingan yang tepat. Dengan sekitar separuh lahan potensial yang belum tergarap, pilihan kebijakan yang diambil pada musim-musim berikutnya akan menentukan seberapa besar manfaat yang sampai ke keluarga petani garam.

Referensi: Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dan Pedoman Rakyat.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga