Senin, 21 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Ekonomi & UMKM

Berita Luwu Timur: Pangkep Dorong IKM Tembus Swalayan

15 September 2026 • Admin
Berita Luwu Timur: pelaku IKM Pangkep belajar desain kemasan dan label agar produk lokal masuk ritel modern
Gambar: Pedoman Rakyat

Mengapa Kemasan Menentukan Akses ke Ritel Modern

Swalayan dan ritel modern bekerja dengan sistem pasokan yang rapi. Mereka membutuhkan produk dengan ukuran konsisten, kemasan yang tidak mudah rusak, label yang lengkap, dan pasokan yang bisa diprediksi.

Karena itu, pembenahan kemasan biasanya juga menuntut pembenahan produksi. Pelaku usaha perlu menetapkan standar berat, menjaga kebersihan ruang produksi, dan mencatat kapasitas harian agar bisa memenuhi pesanan berulang.

Pemkab Pangkep menilai kemasan dan label menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Dengan produk yang lebih menarik, informatif, dan memiliki identitas merek yang kuat, produk olahan lokal Pangkep diharapkan semakin kompetitif dan mampu memperluas pasar hingga ke tingkat regional.

Kepercayaan konsumen itu bekerja berlapis. Label yang jujur membuat pembeli yakin pada isi produk, dan kemasan yang rapi membuat pembeli yakin pada cara produk itu dibuat.

Jejak yang Bisa Dipelajari Daerah Lain

Pola yang dipakai Pangkep dapat dibaca sebagai contoh bagi daerah lain di Sulawesi Selatan, termasuk Luwu Timur yang juga memiliki banyak produk olahan berbasis hasil bumi dan hasil laut.

Di banyak kabupaten, pelatihan kemasan sudah sering digelar. Yang membuatnya berdampak adalah ketika pelatihan disertai pendampingan lanjutan, akses peralatan, dan jalur pemasaran yang nyata.

Tanpa tiga hal itu, peserta kembali ke rumah dengan catatan rapi tetapi tetap menjual produk dalam kemasan yang sama seperti sebelumnya.

Karena itu, kolaborasi antara dinas yang membidangi perindustrian, UMKM, dan pelaku ritel menjadi penting. Pembeli besar perlu dilibatkan sejak awal agar standar yang diajarkan benar-benar sesuai permintaan pasar.

Menjaga Konsistensi Mutu Produk

Salah satu risiko produk UMKM saat mulai masuk ritel adalah ketidakstabilan mutu. Rasa gurih yang enak pada satu batch bisa berbeda pada batch berikutnya bila takaran bahan tidak diukur secara baku.

Karena itu, pelatihan kemasan idealnya diikuti dengan pelatihan standarisasi resep dan pengendalian mutu sederhana. Konsumen ritel akan kembali membeli bila rasanya konsisten.

Selain itu, masa simpan produk olahan perlu diuji dan dicantumkan secara benar. Informasi kedaluwarsa bukan formalitas administratif, melainkan bagian dari tanggung jawab kepada konsumen.

Kendala yang Biasanya Muncul di Lapangan

Pelaku IKM yang hendak memperbaiki kemasan umumnya menghadapi tiga kendala yang berulang. Pertama, keterbatasan modal untuk mencetak kemasan dalam jumlah minimum yang diminta percetakan.

Kedua, keterampilan desain yang belum dimiliki sehingga rancangan kemasan diserahkan sepenuhnya kepada pihak lain tanpa pemahaman kebutuhan pasar. Ketiga, ketidakpastian jumlah produksi yang membuat perhitungan biaya kemasan per unit sulit dilakukan.

Pendekatan seperti yang dipakai Pangkep menawarkan jalan tengah. Pelatihan desain mengurangi ketergantungan pada pihak luar, sementara bantuan kemasan awal menekan kebutuhan modal cetak pada tahap percobaan.

Setelah tahap itu terlewati, pelaku usaha diharapkan mampu menghitung sendiri berapa biaya kemasan yang wajar dan bagaimana menyesuaikannya dengan harga jual yang tetap diterima pasar.

Peran Pendampingan Setelah Pelatihan

Dampak sebuah bimtek biasanya baru terlihat beberapa bulan setelah kegiatan selesai. Di titik itu, peserta yang mendapat pendampingan cenderung bertahan, sementara yang dibiarkan sendiri sering kembali ke kebiasaan lama.

Pendampingan bisa berbentuk kunjungan singkat ke tempat produksi, konsultasi desain lanjutan, atau temu usaha dengan calon pembeli. Bentuknya tidak harus mahal, yang penting berkelanjutan.

Pemkab Pangkep lewat dinas terkait menyatakan akan terus mendorong produk UMKM naik kelas. Keberhasilan kebijakan ini pada akhirnya akan terlihat dari bertambahnya produk lokal yang benar-benar duduk di rak swalayan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa pelaku IKM yang mengikuti bimtek kemasan Pangkep? Sebanyak 25 pelaku IKM dari wilayah daratan, pegunungan, dan kepulauan Pangkep mengikuti Bimtek Kemasan dan Label Angkatan II Tahun 2026 pada 10–12 September 2026.

Bantuan apa yang diberikan selain pelatihan? Peserta mendapat dukungan mesin pres dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dan masing-masing pelaku usaha akan menerima 350 kemasan untuk menerapkan hasil bimtek.

Mengapa kemasan penting untuk masuk swalayan? Karena ritel modern menuntut kemasan dengan label lengkap, ukuran konsisten, dan informasi produk yang jelas sebagai syarat kelayakan jual di rak.

Penguatan kemasan dan label di Pangkep memperlihatkan bahwa upaya menaikkan kelas UMKM tidak selalu dimulai dari penambahan modal besar. Perbaikan pada hal-hal yang tampak kecil, seperti desain kemasan dan kelengkapan label, bisa membuka pintu pasar yang sebelumnya tertutup. Bagi daerah yang ingin produk lokalnya melangkah lebih jauh, kemampuan mendesain kemasan sendiri adalah keterampilan yang layak diseriuskan.

Baca juga: TMT Burau Didorong Jadi Peluang Usaha Baru, Listrik, LPG dan BBM Pangkep Disorot, dan kanal Ekonomi & UMKM SuaraLutim.

Referensi: Pedoman Rakyat, Kementerian Perindustrian, dan Pemkab Pangkep.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga