Minggu, 20 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Ekonomi & UMKM

Berita Luwu Timur: Sampah 14 Pasar Jadi Pakan Sapi

18 September 2026 • Admin
Berita Luwu Timur tentang sampah organik 14 pasar yang diolah menjadi pakan sapi di TPA Tamangapa Makassar
Gambar: Pedoman Rakyat

Pemilahan Harus Diikuti Pengelolaan

Menurut Ali, pemilahan harus diikuti dengan pengelolaan agar sampah organik tidak kembali menjadi beban bagi sistem persampahan kota. Pemisahan di sumber saja tidak cukup bila material yang sudah dipilah kemudian menumpuk tanpa pemanfaatan.

“Yang penting itu sebetulnya setelah pemilahan adalah pengelolaan. Salah satu yang harus dikelola itu adalah organik,” katanya.

Prinsip tersebut sejalan dengan arah kebijakan pengelolaan sampah yang menempatkan pengurangan dari sumber sebagai prioritas. Pemanfaatan organik untuk pakan ternak menjadi salah satu bentuk pengolahan yang memberi nilai tambah, bukan sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain.

Mengapa Model Ini Relevan bagi Daerah Lain

Pendekatan TPA Tamangapa menunjukkan bahwa persoalan sampah bisa diurai dari hulu. Ketika pasar memilah organik sejak awal, beban di tempat pemrosesan akhir berkurang sekaligus muncul manfaat ekonomi berupa pakan ternak. Model itu terbuka untuk ditiru daerah lain dengan penyesuaian kapasitas.

Di Kabupaten Luwu Timur, isu pengelolaan sampah juga menjadi perhatian. SuaraLutim pernah melaporkan capaian daerah ini di tingkat regional melalui laporan penghargaan Terbaik I pengelolaan sampah Sulawesi bagi Luwu Timur. Persoalan sampah juga sempat menjadi sorotan warga, seperti tergambar dalam liputan kunjungan bupati ke warga Wotu saat sampah jadi sorotan.

Karena itu, gagasan memanfaatkan organik pasar sebagai pakan ternak menarik dicermati di daerah mana pun yang memiliki pasar rakyat dan populasi ternak. Pembahasan lebih luas soal sektor ekonomi lokal tersedia di kanal Ekonomi & UMKM SuaraLutim.

Arah Kebijakan dan Dukungan Kecamatan

Ali menyampaikan bahwa keberhasilan pengumpulan organik tidak terlepas dari peran kecamatan. Dukungan itu membuat jangkauan pengumpulan meluas dan volume yang terkirim meningkat signifikan dalam waktu relatif singkat. Kolaborasi lintas perangkat daerah menjadi kunci.

“Konsep ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Makassar mengubah pola pengelolaan sampah di TPA Tamangapa, dengan pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan,” tukasnya.

Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan akhir di tempat pembuangan. Pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan dikerjakan berurutan sehingga setiap tahap memberi manfaat. Pendekatan itu juga membuka ruang pembinaan bagi peternak agar pengelolaan kandang lebih tertib.

Kerangka kebijakan pangan dan peternakan nasional dapat ditelusuri melalui portal Kementerian Pertanian, sementara informasi pembangunan daerah Sulawesi Selatan tersedia di situs resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Laporan asli mengenai pengelolaan pakan sapi di TPA Tamangapa dapat dibaca pada publikasi Pedoman Rakyat.

FAQ: Sampah Organik Pasar dan Pakan Ternak

Berapa pasar yang menjadi sumber sampah organik?

Saat ini sumber sampah organik berasal dari sekitar 14 pasar yang dikelola Perumda Pasar Makassar Raya. Sebelum dukungan kecamatan, volume yang terkirim hanya 3–4 ton per hari, lalu meningkat mendekati 31 ton per hari.

Berapa kebutuhan pakan sapi di kawasan TPA Tamangapa?

Dengan asumsi satu sapi mengonsumsi sekitar 20 kilogram pakan per hari, kebutuhan pakan untuk populasi ternak di kawasan itu dapat mencapai sekitar 30 ton per hari. Pasokan organik dari pasar disebut telah mencukupi kebutuhan tersebut.

Apakah sapi diberi sampah campuran?

Tidak. Pengelola menegaskan yang dimanfaatkan adalah sampah organik yang telah melalui proses pemilahan, bukan sampah campuran. Setelah pemilahan, material tersebut masih harus dikelola agar tidak kembali menjadi beban sistem persampahan.

Secara keseluruhan, penataan TPA Tamangapa memperlihatkan bahwa perbaikan tata kelola sampah dapat dirancang sekaligus dengan pengembangan peternakan. Hasilnya bergantung pada konsistensi pemilahan di sumber, ketersediaan armada, dan pengelolaan lanjutan yang berjalan setiap hari.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga