SUARALUTIM.COM, MALILI — Promosi pariwisata Luwu Timur tidak hanya bergerak lewat brosur dan unggahan media sosial. Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparmudora) Kabupaten Luwu Timur menjadikan Duta Wisata sebagai ujung tombak memperkenalkan daerah ini ke tingkat provinsi maupun nasional. Muhammad Rizaldy As Sahid dan Nurul Qisthi Arifuddin terpilih sebagai Duta Wisata Luwu Timur 2026, sementara Duta Wisata 2025, Irfan Syauqi Madani, bersiap mewakili Sulawesi Selatan pada ajang nasional yang rencananya digelar di Bali pada Oktober 2026.
Pariwisata Lutim dan Peran Para Duta
Dalam perencanaan program 2026, Disparmudora menempatkan promosi wisata sebagai salah satu prioritas. Kepala Disparmudora Luwu Timur, Muhammad Safaat DP, menyebut para duta wisata akan bertarung di tingkat provinsi setelah terpilih di tingkat kabupaten. Peran mereka bukan sekadar simbol, melainkan ikut memperkenalkan potensi wisata dan kekayaan budaya daerah.
Luwu Timur memiliki modal yang jarang dimiliki daerah lain. Kabupaten paling timur di Sulawesi Selatan ini menyimpan tiga danau besar sekaligus: Danau Matano, Danau Towuti, dan Danau Mahalona. Konsep “Tiga Danau” diproyeksikan sebagai destinasi wisata tektonik kelas dunia, dipadukan dengan wisata bahari serta keragaman budaya lokal.
Itulah yang membuat keberadaan duta wisata penting. Mereka menjadi jembatan antara keindahan alam yang belum banyak dikenal dan calon wisatawan di luar Sulawesi Selatan. Tugas itu menuntut kemampuan komunikasi, pemahaman destinasi, hingga kesiapan menjelaskan rute dan fasilitas kawasan wisata.
Dalam pemberitaan Input Rakyat (20/4/2026), Safaat menyebut Irfan akan membantu mempromosikan potensi wisata dan kekayaan daerah saat tampil di tingkat nasional. Ada harapan besar bahwa kesempatan itu dirangkai dengan promosi destinasi maupun produk lokal, bukan hanya ajang unjuk kemampuan di atas panggung.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Duta Wisata 2025 Melaju ke Ajang Nasional
Perjalanan Irfan Syauqi Madani ke tingkat nasional menjadi catatan tersendiri bagi pembinaan kepariwisataan daerah. Ia bukan nama baru di lingkungan Disparmudora. Ia sebelumnya menjadi bagian dari program promosi wisata yang dikelola dinas tersebut.
Kehadiran Luwu Timur di ajang nasional selalu membawa dua misi sekaligus. Pertama, memperkenalkan Danau Matano dan kawasan sekitarnya ke jaringan wisatawan yang lebih luas. Kedua, memperkuat posisi Luwu Timur sebagai daerah yang serius menggarap sektor pariwisata, bukan sekadar mengandalkan sektor tambang.
Kepala Bidang Kemitraan dan Pengembangan Destinasi Pariwisata Disparmudora Luwu Timur, Andi Irfan Saputra, dalam sejumlah kesempatan menegaskan bahwa pengembangan destinasi berjalan bertahap, termasuk penyiapan kawasan Matano sebagai destinasi unggulan.
Tiga Danau dan Geopark Matano
Salah satu pekerjaan rumah terbesar adalah pengusulan Geopark Matano sebagai kawasan geopark nasional. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur telah menempuh sejumlah tahapan, mulai dari penyusunan dokumen hingga berkoordinasi dengan Badan Geologi Kementerian ESDM.
Ketika perencanaan disusun pada April 2026, Safaat menyebut sekitar 90 persen persyaratan sudah terpenuhi. Pemerintah daerah menargetkan pengusulan didorong pada September 2026, dengan evaluasi selanjutnya oleh Bappenas dan Kementerian ESDM terkait kelayakan kawasan.
Bagi warga sekitar, geopark bukan hanya soal status. Kawasan itu diharapkan menjadi laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian, sekaligus membuka peluang ekonomi baru lewat pemandu wisata, kuliner, penginapan, dan cendera mata.
Desa Wisata, Pelatihan, dan Keterlibatan Warga
Di sisi lain, Disparmudora mendorong pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat. Program ini dijalankan melalui pelatihan agar pengelolaan adat dan budaya lebih terarah, sekaligus menyiapkan parameter penilaian supaya pengembangan berjalan terstruktur dan berkelanjutan.
Pendekatan itu sejalan dengan potret wisata yang berkembang saat ini. Sejumlah oleh-oleh khas dan rumah produk lokal tumbuh dari usaha kecil warga, seperti rumah oleh-oleh di Kecamatan Nuha yang menjual aneka camilan dan hasil bumi khas Luwu Timur.
Pemerintah daerah juga mendorong komunitas adat dan pelaku usaha lokal masuk ke rantai nilai wisata. Harapannya sederhana: kunjungan wisatawan tidak hanya menghidupkan pengelola destinasi, tetapi juga pedagang, pengemudi, dan produsen produk lokal.


