Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Wisata Luwu Timur: Margolembo Green Country di Mangkutana

27 September 2026 • Admin • 24 kali dibaca
Air terjun Malela di Desa Wisata Margolembo Green Country, Luwu Timur
Gambar: Dok. Jadesta Kementerian Pariwisata - Desa Wisata Margolembo Green Country, Mangkutana, Luwu Timur.
ASM Group
Iklan

Lutim, SuaraLutim – Selama ini pembicaraan soal wisata Luwu Timur hampir selalu berputar pada tiga danau purba: Matano, Towuti, dan Mahalona. Padahal di sisi utara kabupaten ini, di Kecamatan Mangkutana, ada satu desa wisata berbasis pertanian yang sudah tercatat resmi di sistem desa wisata nasional, yakni Margolembo Green Country.

Desa Wisata Margolembo masuk kategori desa wisata berkembang dan telah diverifikasi oleh Dinas Pariwisata setempat. Pada 2023, desa ini menembus 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Datanya bisa dicek langsung pada laman Jadesta Kementerian Pariwisata, lengkap dengan daftar fasilitas, atraksi, homestay, hingga produk suvenir warganya.

Bagi warga Luwu Timur, keberadaan desa wisata ini penting karena menambah pilihan selain wisata danau. Kunjungan tidak menumpuk di satu kawasan, dan nilai ekonomi dari kunjungan lebih mudah berhenti di desa.

Wisata Luwu Timur Berbasis Agro di Mangkutana

Margolembo berada di Kecamatan Mangkutana, satu dari 11 kecamatan di Kabupaten Luwu Timur. Menurut profil resminya, lokasi desa wisata ini berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat pemerintahan kecamatan.

Tata Atur
Iklan

Yang ditawarkan bukan sekadar pemandangan. Basisnya agro: kebun dan tanaman buah yang masih asri, dengan komoditas unggulan seperti kopi Malela, durian lokal, pepaya, dan jagung. Aktivitas warga di kebun justru menjadi bagian dari pengalaman berkunjung, bukan sekadar latar belakang.

Konsep seperti ini membuat perputaran uang wisata lebih merata. Pengunjung membeli hasil kebun, menginap di rumah warga, dan memakai jasa pemandu lokal. Dampaknya terasa langsung di tingkat dusun, bukan hanya di kota kecamatan.

Akses dan waktu tempuh

Margolembo dapat dijangkau lewat jalur darat dari Malili, ibu kota Kabupaten Luwu Timur, menuju arah Mangkutana. Karena berada dalam satu wilayah kecamatan yang sudah terhubung jalan kabupaten, desa ini relatif mudah dicapai kendaraan roda dua maupun roda empat.

Waktu tempuh tentu bergantung pada titik awal perjalanan dan kondisi jalan. Untuk perencanaan yang rapi, pengunjung sebaiknya mengecek kondisi rute pada hari keberangkatan, terutama pada musim hujan ketika sebagian ruas jalan desa bisa lebih licin.

Pola kunjungan yang paling banyak dipakai wisatawan lokal adalah perjalanan sehari, berangkat pagi dan kembali sore. Namun pilihan menginap juga tersedia bagi yang ingin merasakan suasana desa lebih lama.

Watu Maeta, Keunikan Utama Margolembo

Keunikan pertama yang disebut pada profil resmi desa wisata ini adalah Watu Maeta. Nama itu berasal dari bahasa suku Pamona: watu berarti batu, sedangkan maeta berarti hitam.

Watu Maeta digambarkan sebagai dua batu yang terpisahkan oleh aliran sungai. Kondisi itu membuatnya berbeda dari formasi batu biasa, karena posisinya menyatu dengan arus air yang membelahnya.

Warga setempat memiliki cerita turun-temurun tentang batu tersebut. Cerita itu bagian dari kekayaan tradisi lisan desa dan biasanya disampaikan pemandu kepada pengunjung yang datang.

Aliran sungai dan cerita rakyat

Menurut catatan desa, masyarakat meyakini air di aliran sungai sekitar Watu Maeta punya makna tersendiri. Cerita semacam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman wisata alam yang dekat dengan tradisi lokal.

Dari sisi pengelolaan, cerita rakyat justru bisa menjadi materi promosi yang murah dan khas. Ia tidak perlu dibangun dari nol karena sudah hidup di tengah warga.

Kopi Malela dan durian lokal

Selain formasi batu, Margolembo dikenal sebagai penghasil kopi Malela. Kopi ini bahkan dijadikan produk suvenir resmi desa wisata tersebut, dijual dengan kemasan sederhana dalam satuan kecil.

Komoditas lain yang disebut dalam profil desa adalah durian lokal, pepaya, dan jagung. Komoditas tersebut tumbuh di kebun warga yang sekaligus menjadi bagian dari lanskap desa wisata.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga