SUARALUTIM.COM, MALILI – Permandian Alam Watu Maeta di Dusun Malela, Desa Margolembo, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sabtu (10/10/2026), berubah menjadi lokasi perkemahan ibu-ibu Majelis Taklim se-Kecamatan Mangkutana. Sekitar 160 peserta yang tergabung dalam Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) dibagi ke dalam 16 kelompok, menjadikan kawasan itu bukan sekadar tempat mandi dan berlibur, melainkan ruang berkumpulnya warga. Bagi pembaca yang mencari referensi wisata Luwu Timur, peristiwa ini memperlihatkan satu pola yang jarang dibahas: destinasi alam yang hidup karena kegiatan sosial, bukan hanya karena panorama.
Wisata Luwu Timur: Mengenal Permandian Alam Watu Maeta
Watu Maeta secara administratif berada di Dusun Malela, Desa Margolembo, Kecamatan Mangkutana. Lokasi ini dikenal sebagai permandian alam, yaitu tempat warga mandi dan beristirahat dengan latar pepohonan. Pada Sabtu (10/10/2026), kawasan itu dipenuhi tenda dan peserta kegiatan bertajuk Kemah Ukhuwah Majelis Taklim.
Kepala Desa Margolembo, Abdul Najib, menjelaskan alasan pemilihan lokasi. Menurutnya, Watu Maeta dipilih untuk mempertemukan BKMT se-Kecamatan Mangkutana dalam konsep berkemah dengan nuansa alam.
“Dan bagaimana mempertemukan BKMT se-Kecamatan Mangkutana dalam konsep berkemah dengan nuansa alam. Makanya, tempat ini dipilih,” ungkap Abdul Najib, seperti dikutip Malili Pos.
Ia menyebut kegiatan semacam ini hampir tidak pernah ditemukan di desanya. Bagi Desa Margolembo, status tuan rumah dinilai sebagai hal yang positif karena mendatangkan keramaian dari banyak desa dalam satu kecamatan.
“Positifnya untuk kami sebagai Desa Margolembo, karena dijadikan tuan rumah. Ini adalah acara yang saya kira hampir tidak pernah ditemukan. Ini yang pertama kali,” kata Abdul Najib.
Fasilitas Desa yang Dipakai Bersama
Pemerintah desa menyiapkan tempat menggunakan aset desa yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Fasilitas yang disediakan mulai dari kantor, dapur, hingga rumah pesantren. Menurut Abdul Najib, sebagian ruang dipakai bersama tanpa sekat kepemilikan yang rumit.
“Kita berikan kantor kepada BUMDes. Dan pesantren seolah-olah menyewa di dalam rumah sini. Mulai dari kita beri dapur, semuanya, semuanya bebas,” bebernya. Pola itu menarik dicatat karena menunjukkan bagaimana aset desa bisa menopang kegiatan warga sekaligus aktivitas di sekitar lokasi wisata.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Kemah Ukhuwah dan Cara Baru Majelis Taklim Berkegiatan
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Mangkutana, Drs. H. Suwardi, membawa sekitar 160 ibu-ibu anggota Majelis Taklim dari desa-desa. Peserta dibagi dalam 16 kelompok, dengan satu kelompok berisi tujuh sampai sepuluh orang. Sebagian desa mengirim lebih dari satu kelompok karena jumlah peserta yang besar.
“Ada desa yang mengambil dua kelompok. Peserta total seratus enam puluh,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan.
Rangkaian acara berlangsung hingga malam. Sore harinya, panitia menggelar lomba memasak nasi goreng setelah salat. Malamnya diisi lomba tebak-tabakan dengan materi ringan sebelum sesi refleksi yang dikemas sebagai malam perenungan.
“Sudah kita kasih kisi-kisi semua,” lanjut Suwardi.
Pendekatan Tanpa Ceramah
Suwardi menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang dengan pendekatan berbeda dari pengajian biasa. Tidak ada ceramah, melainkan permainan yang dielaborasi untuk menyampaikan pesan.
“Jadi, kita pakai permainan-permainan. Tidak ada ceramah. Jadi, permainan nanti dielaborasi,” paparnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Luwu Timur, Rusdi Daming, menegaskan bahwa kegiatan itu bukan sekadar berkumpul. Nilai agama, ukhuwah, dan keberkatan antar-Majelis Taklim tetap menjadi fondasi penyelenggaraannya.
“Karena kegiatan ini juga bukan kegiatan sekadar hura-hura. Tetapi, ada juga nilai agama, nilai ukhuwah, nilai keberkatan antara satu Majelis Taklim dengan Majelis Taklim,” tandas Rusdi.
Deteksi Dini Konflik Sosial di Lokasi Wisata
Di sekitar Permandian Alam Watu Maeta terpampang baliho putih bertuliskan “Early Warning System Pencegahan Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan”. Baliho itu menempel di antara pepohonan, tepat di area kemah peserta.
Rusdi Daming menilai Majelis Taklim sebagai salah satu lembaga keagamaan Islam yang paling kuat karena sudah ada sejak masa Nabi. Ia juga menyoroti bahwa kegiatan ibu-ibu Majelis Taklim kerap terbatas pada pengajian duduk dan ceramah.
“Tapi, ibu-ibu juga ini penuh represi. Makanya, dengan model seperti ini, saya kira ini adalah lompatan yang sangat luar biasa dilakukan oleh ibu-ibu Majelis Taklim,” imbuhnya.
Ia membeberkan alur koordinasi kegiatan. Gagasan berawal dari penyuluh Kantor Kementerian Agama Kecamatan Mangkutana, lalu dikomunikasikan dengan ibu-ibu Majelis Taklim di BKMT kecamatan. Setelah itu, gagasan dibawa ke pihak camat dan beberapa kepala desa sebelum difinalkan dalam pertemuan langsung dengan BKMT kecamatan.
Rusdi berharap kemah ukhuwah tidak berhenti sebagai kegiatan sekali jalan. “Saya kira lanjutkan bikin kegiatan itu,” pungkasnya.


