Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Suara Warga

Zakat Luwu Timur: Dai dan Guru Ngaji Penjaga Kampung

5 Oktober 2026 • Admin • 18 kali dibaca
Penyaluran zakat untuk warga dhuafa, dai, dan guru ngaji, bagian dari layanan zakat Luwu Timur dan WIZ Luwu Timur bagi kelompok penerima yang berhak
Dok. Wahdah Inspirasi Zakat (wiz.or.id)
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, SOROWAKO — Di kampung-kampung Luwu Timur, dakwah berjalan tenang dan jarang masuk sorotan. Guru ngaji membuka pengajian dari rumah ke rumah selepas magrib, sementara dai menempuh jalan berbatu untuk mengisi kajian di masjid kecil. Zakat Luwu Timur punya peran penting di sini: memastikan orang-orang yang merawat ilmu agama tidak berjuang sendirian.

Peran itu bukan wacana. Sejumlah penyaluran zakat di Sulawesi Selatan menempatkan dai dan guru ngaji sebagai penerima manfaat, berdampingan dengan warga dhuafa yang selama ini menjadi sasaran utama bantuan.

Zakat Luwu Timur dan Pejuang Dakwah Tingkat Tapak

Contoh terbaru datang dari program “Bersama Berbagi Bahagia” yang digelar di Masjid Umarayn, Jumat (18/9/2026). Kegiatan itu merupakan kerja sama sebuah perusahaan mitra dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) serta pengurus masjid setempat.

Total ada 50 penerima manfaat dalam penyaluran tersebut. Sebanyak 40 paket bantuan diserahkan kepada warga dhuafa di sekitar lingkungan masjid, sedangkan 10 paket lain dialokasikan khusus sebagai bentuk apresiasi bagi para dai dan guru ngaji yang membina masyarakat. Laporan lengkapnya bisa dibaca di kanal resmi WIZ.

Tata Atur
Iklan

Fasilitator program sekaligus relawan WIZ, Usamah Saiful Yusuf, menegaskan penyaluran itu dirancang bukan hanya untuk meringankan beban finansial warga.

“Kami ingin memastikan amanah zakat ini benar-benar sampai kepada yang berhak, mulai dari warga dhuafa hingga para pejuang dakwah di tingkat tapak,” ujar Usamah di lokasi kegiatan.

Sebelum penyerahan bantuan, para penerima manfaat mengikuti kajian keislaman yang mengingatkan pentingnya merawat rasa syukur. Peserta juga diajak memakmurkan masjid lewat salat berjamaah lima waktu.

Mengapa Dai dan Guru Ngaji Termasuk Penerima Zakat

Dalam ketentuan zakat, dai dan guru ngaji umumnya masuk golongan fisabilillah, salah satu dari delapan kelompok penerima atau asnaf yang dirinci oleh Badan Amil Zakat Nasional.

Alasannya sederhana. Penghasilan dai dan guru ngaji jarang berbentuk gaji tetap. Ia bergantung pada bantuan jamaah dan bisa naik-turun mengikuti keadaan warga. Ketika harga kebutuhan pokok naik, kelompok inilah yang lebih dulu terimbas, padahal peran mereka tidak pernah berhenti.

Karena itu, memuliakan dai tidak cukup dengan ucapan terima kasih. Bentuk nyatanya adalah menjaga agar pengajaran Al-Qur’an, pembinaan keluarga, dan kajian rutin tetap hidup di kampung-kampung.

Agenda Pemerataan Dai Wahdah Lutim

Kebutuhan yang sama juga dibahas di Luwu Timur. DPD Wahdah Islamiyah Luwu Timur menggelar Musyawarah Pengurus Harian bersama pimpinan DPC lingkup Luwu Timur selama dua hari, Sabtu–Ahad (26–27/09/2026), di Sorowako.

Dalam forum itu, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Luwu Timur, Ustadz Arifuddin, S.T., menekankan agar setiap program kerja disusun berdasarkan kebutuhan dan memiliki tenggat waktu yang jelas. Ia juga menyoroti perlunya pemerataan penyebaran dai supaya aktivitas dakwah di setiap cabang berjalan merata.

Penguatan ekonomi lembaga dinilainya perlu terus dikembangkan untuk menopang keberlangsungan program dakwah sekaligus mendukung kesejahteraan para dai yang menjalankan tugas di lapangan.

Musyawarah tersebut dihadiri para ketua DPC Wahdah Islamiyah lingkup Luwu Timur, yakni DPC Nuha, Towuti, Malili, Kalaena, dan Tomoni, seperti dilaporkan wahdah.or.id. Wilayah kerjanya membentang dari kawasan Danau Matano hingga pesisir Wotu, jarak yang bisa memakan berjam-jam perjalanan.

Agenda itu bukan hal baru. Pada Ahad (8/11/2025), DPD Wahdah Islamiyah Luwu Timur mengukuhkan 52 pengurus untuk periode 2025–2030 di Hotel Duta Inn Sorowako. Saat itu, perwakilan DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Selatan, Ustadz Ayem Supriono, menyebut bidang pendidikan, gerakan sejuta dai, ketahanan keluarga, dan kemandirian ekonomi sebagai fokus lembaga di era digitalisasi.

Bentuk dukungan untuk dai dan guru ngaji di jaringan itu beragam:

  • Pemerataan penempatan dai agar setiap DPC punya penopang dakwah.
  • Penguatan ekonomi lembaga supaya kegiatan dakwah tidak bergantung pada satu sumber dana.
  • Pembinaan guru ngaji, salah satunya lewat metode Dirosa untuk pembelajaran Al-Qur’an orang dewasa.
  • Kegiatan sosial yang menjaga kedekatan dengan warga, seperti aksi relawan Wahdah Peduli Nuha.

Pembinaan guru ngaji itu tidak berhenti di kertas. Departemen Khidmatul Qur’an DPC Nuha, misalnya, menggelar uji baca Al-Qur’an metode Dirosa bagi delapan peserta dewasa di Masjid Nurul Afiat, Sorowako, setelah mereka menempuh 20 pertemuan pembelajaran.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga