LFP dan pergeseran permintaan baterai
Tekanan kedua datang dari sisi permintaan. Dalam Global EV Outlook 2026, Badan Energi Internasional (IEA) mencatat baterai LFP mengisi lebih dari 55 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan secara global pada 2025, naik dari sekitar 50 persen pada 2024. Harga LFP juga turun lebih dari 15 persen sepanjang 2025, sementara baterai berbasis nikel, kobalt, dan mangan (NMC) hanya turun kurang dari 5 persen, sehingga LFP rata-rata lebih dari 40 persen lebih murah. Di sektor penyimpanan energi, LFP bahkan mengambil lebih dari 90 persen pemasangan global.
Karena LFP tidak memakai nikel sebagai bahan utama katoda, pergeseran ini mengurangi ruang tumbuh bagi kimia baterai yang mengandalkan nikel. Namun kesimpulannya jangan dibaca berlebihan. IEA mencatat bahwa dari baterai kendaraan listrik yang dipakai di luar China pada 2025, hampir 80 persen masih memakai kimia mengandung nikel. Produksi katoda dan prekursor LFP pun hampir seluruhnya terpusat di China, sehingga nikel Indonesia tetap punya ceruk pasar sendiri.
Bagi Indonesia, ini berarti hilirisasi nikel tidak lagi cukup diukur dari jumlah smelter yang dibangun, tetapi dari ketahanan rantai bahan kimianya.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Kenapa tambang Luwu Timur berada di titik ini
Kawasan tambang Luwu Timur telah menjadi pemasok nikel dunia sejak 1978 melalui smelter PT Vale Indonesia di Sorowako. Selama puluhan tahun, pabrik itu menghasilkan nikel dalam bentuk matte melalui proses pirometalurgi, memakai bijih saprolit. Produk itu masuk kategori barang setengah jadi, jenis yang kini ikut disorot dalam kebijakan hilirisasi nasional.
Babak berikutnya sedang dibangun. Melalui proyek Sorowako Limonite, Vale memanfaatkan bijih limonit yang selama ini belum diolah optimal untuk diproses dengan teknologi HPAL menjadi MHP. Paparan perusahaan menyebut fasilitas HPAL itu disiapkan untuk kapasitas sekitar 60.000 ton nikel dalam bentuk MHP per tahun, dengan kebutuhan pasokan limonit sekitar 11,5 juta wet metric ton per tahun dan kadar minimum 1,10 persen. Fasilitas pengolahannya direncanakan berada di kawasan industri Kabupaten Luwu Timur, didukung feed preparation plant serta infrastruktur di area tambang.
Pada tahap yang dipaparkan dalam kunjungan media di Sorowako, konstruksi tambang telah mencapai 50,5 persen dengan target rampung pada kuartal II 2027, sedangkan pembangunan fasilitas HPAL berada di sekitar 19,3 persen dengan target penyelesaian kuartal IV 2027. Vale juga mengembangkan dua proyek HPAL lain di Sulawesi, yakni di Pomalaa dan Morowali, yang diarahkan rampung pada 2026, bagian dari tiga proyek hilirisasi yang disiapkan perusahaan. Artinya, kebutuhan sulfur untuk seluruh rangkaian proyek itu akan meningkat justru ketika pasokan globalnya sedang ketat.
Karena itu, proyek pengolahan limonit di Luwu Timur berada di persilangan dua arus: pasokan kimia yang tidak bisa ditunda dan permintaan baterai yang sedang berpindah kimia, ditambah tekanan El Niño serta pengaturan kuota bijih tahunan lewat RKAB.
Apa yang layak dijaga ke depan
Ada beberapa hal yang bisa dibaca untuk daerah penghasil nikel. Pertama, diversifikasi pemasok sulfur dan pengembangan sulfur domestik dari produk samping tambang bukan lagi pelengkap, melainkan prasyarat agar pabrik pengolahan berjalan stabil. Kedua, proyek HPAL baru sebaiknya menghitung kebutuhan sulfur dan asam sulfat sejak studi kelayakan, bukan setelah konstruksi berjalan.
Ketiga, ketika margin industri tipis, ujian terberat biasanya muncul di janji manfaat lokal: penyerapan tenaga kerja dan peluang usaha warga sekitar. Bagi Luwu Timur, nilai tambah nikel baru benar-benar terasa kalau rantai pengolahannya tahan guncangan bahan baku, bukan hanya besar di atas kertas investasi.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah proyek pengolahan nikel di Luwu Timur terancam berhenti karena sulfur?
Tidak ada pernyataan resmi yang mengarah ke sana. Vale menyatakan masih memiliki stok sulfur dari pengadaan sebelumnya. Riset BMI menempatkan sulfur sebagai risiko pertumbuhan proyek HPAL, sementara Perhapi mencatat belum ada smelter HPAL di Indonesia yang berhenti karena harga sulfur. Yang perlu dijaga adalah bila kenaikan harga asam sulfat berbarengan dengan penurunan harga nikel berlangsung lama.
Mengapa sulfur begitu penting bagi hilirisasi nikel?
Sulfur adalah bahan baku asam sulfat yang dipakai melindi bijih nikel limonit dalam proses HPAL. Menurut hitungan MIND ID, produksi satu ton MHP memerlukan sekitar 11,7 ton sulfur.
Apakah tren baterai LFP menghapus kebutuhan nikel Indonesia?
Tidak sepenuhnya. LFP memang mendominasi dan lebih murah, tetapi IEA mencatat hampir 80 persen baterai kendaraan listrik di luar China pada 2025 masih memakai kimia mengandung nikel. Yang berubah adalah bauran permintaan, bukan hilangnya kebutuhan.
Sumber: riset BMI (Fitch Solutions) sebagaimana diberitakan Bloomberg Technoz (8/10/2026); MIND ID melalui Warta Ekonomi (18/6/2026) dan SWA.co.id (25/6/2026); Perhapi; Bisnis.com (8/3/2026); Badan Energi Internasional (IEA), Global EV Outlook 2026; serta paparan PT Vale Indonesia soal proyek Indonesia Growth Project Sorowako Limonite.
Gambar: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi.


