Rute Myanmar, Laos, dan Thailand
Bahan baku sabu cair diduga diproduksi di wilayah utara Myanmar. Barang itu kemudian bergerak melalui Laos dan Thailand sebelum menyeberang ke Indonesia. Rute darat dan laut dipakai bergantian untuk menghindari pemeriksaan di titik masuk yang ketat.
Pengiriman tahap pertama tiba di Banda Aceh pada 18 Mei 2026. Menurut kepolisian, sindikat sengaja memecah pengiriman menjadi beberapa tahap agar volume besar tidak mencurigakan. Cara itu juga memberi ruang bagi mereka untuk menguji jalur logistik sebelum produksi penuh dimulai.
Pergerakan para ahli kimia kembali terpantau pada 15 Oktober 2026. Keduanya terbang dari Kunming menuju Kuala Lumpur, lalu bertemu seorang warga negara Indonesia. Selama di Malaysia, akomodasi mereka difasilitasi anggota jaringan lain yang berperan sebagai penjaga logistik.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Penyamaran di Balik Kaleng Cat
Untuk mengelabui petugas, sabu cair dikemas dalam kaleng yang diberi label produk cat akrilik. Cara ini dipilih karena kemasan industri jarang dibongkar dalam pemeriksaan rutin. Pengiriman juga memakai dokumen perusahaan fiktif agar tidak terhubung ke penerima sebenarnya.
Menurut penyidik, modus serupa dipakai berulang pada beberapa pengiriman sebelumnya. Setiap tahap pengiriman memiliki kurir dan penanggung jawab berbeda. Pola itu menyulitkan pemetaan jaringan karena antaranggota tidak semuanya saling mengenal.
Produksi di Pidie dilaporkan mulai berjalan pada 18 Oktober 2026. Dua hari kemudian petugas memperoleh informasi bahwa logistik bahan baku telah dikirim dan para pelaku diminta mempercepat proses. Informasi itu menjadi dasar penggerebekan pada 21 Oktober.
Kerja Sama dengan Otoritas Tiongkok
Kepolisian masih memburu sejumlah nama yang masuk daftar pencarian orang. Mereka diduga berperan sebagai pengatur lapangan dan penghubung jaringan. Untuk menangkap pengendali utama, Polri berkoordinasi dengan otoritas narkotika Tiongkok.
CNN Indonesia menulis, Kapolri menyebut koordinasi itu menyasar seorang pengendali utama yang berada di luar Indonesia. Kerja sama lintas negara dinilai penting karena jaringan ini bergerak di sedikitnya empat yurisdiksi. Tanpa bantuan otoritas setempat, pengejaran akan berhenti di pelaku lapangan.
Kasus ini menambah daftar pengungkapan narkotika berskala besar pada Oktober 2026. Pada hari yang sama, Kapolri juga merilis penyelundupan ketamin di perairan Belawan. Sebelumnya, rubrik ini mencatat penyelundupan satu ton ketamin yang dicegat di jalur yang sama.
Apa yang Diketahui
Laboratorium sabu di Pidie dibongkar pada 21 Oktober 2026 oleh tim gabungan Polri, BNN, dan Bea Cukai. Barang bukti mencapai 1,2 ton bruto berupa sabu cair dan sabu kristal. Sebanyak 11 orang ditangkap, termasuk dua warga negara asing yang berperan sebagai ahli kimia.
Jaringan diduga dikendalikan dari luar negeri dengan bahan baku dari wilayah utara Myanmar. Rute pengiriman melewati Laos dan Thailand sebelum masuk melalui Banda Aceh. Kepolisian menyatakan sedang mengejar pengendali utama bersama otoritas Tiongkok.
Apa yang Belum Terkonfirmasi
Nilai kerugian negara dan nilai pasar barang bukti belum diumumkan secara resmi. Kepolisian juga belum merinci berapa lama produksi berjalan sebelum penggerebekan. Rincian peran masing-masing tersangka masih dalam proses penyidikan.
Status hukum para pemilik ruko dan pihak yang memfasilitasi pengiriman juga belum jelas. Penyidik belum menyampaikan apakah ada keterlibatan pejabat atau aparat dalam pelolosan pengiriman. Semua pihak yang disebut dalam penyelidikan tetap dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan.
FAQ Seputar Berita Viral Lab Sabu Aceh
Berapa barang bukti yang disita? Petugas menyita sekitar 1,2 ton bruto sabu cair dan sabu kristal. Rinciannya mencakup 20 drum sabu cair dan sekitar 500 kilogram sabu kristal yang sudah jadi. Angka itu belum termasuk bahan baku dan peralatan produksi.
Siapa yang mengungkap kasus ini? Pengungkapan dilakukan tim gabungan Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional, dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Operasi berlangsung pada 21 Oktober 2026 di Kabupaten Pidie, Aceh. Kapolri memimpin langsung konferensi pers di lokasi dua hari kemudian.
Mengapa disebut laboratorium terbesar? Kepolisian menilai kapasitas produksi lokasi itu jauh di atas laboratorium biasa. Peralatannya mampu menghasilkan ratusan kilogram sabu dalam satu siklus. Selain itu, jaringan yang menopangnya beroperasi lintas negara sejak awal 2026.
Baca juga
- Berita Politik: KPK Sita BMW Listrik di Rumah Komisaris
- Politik Nasional: 700 BUMN Ditutup sampai Desember 2026
- Berita Indonesia: Stok Beras 4,56 Juta Ton Cetak Rekor
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


