Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Indonesia: Pasar Nikel Global Tumbuh 21,39 Persen

18 Oktober 2026 • zul • 27 kali dibaca
Kawasan industri Morowali sebagai ilustrasi pengolahan nikel di Indonesia
Kementerian PUPR, domain publik, via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Tambang indonesia mendapat sinyal positif dari proyeksi pasar global. Shanghai Metals Market memperkirakan permintaan nikel dunia naik 21,39 persen pada 2031 dibanding 2026. Angka itu dibacakan dalam pemberitaan ANTARA pada Minggu, 18 Oktober 2026, dan langsung dikaitkan dengan agenda hilirisasi dalam negeri.

Tambang Indonesia: Proyeksi Permintaan Nikel Dunia

Dalam proyeksi tersebut, permintaan nikel global bergerak dari 3.717 kiloton nikel pada 2026 menjadi 4.512 kiloton nikel pada 2031. Kenaikannya mencapai 21,39 persen dalam lima tahun. Dua sektor disebut menjadi pendorong utama, yaitu baterai dan baja nirkarat.

Baterai kendaraan listrik membutuhkan nikel sebagai bahan katoda. Sementara baja nirkarat memakai nikel untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Kombinasi dua kebutuhan itu membuat permintaan nikel tidak hanya bergantung pada satu industri.

Proyeksi itu bukan angka resmi pemerintah, melainkan hasil kajian lembaga pemantau pasar logam. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sebagai indikasi arah, bukan kepastian. Meski demikian, arahnya sejalan dengan kebutuhan industri pengolahan yang terus dibangun di Indonesia.

Tata Atur
Iklan

Mengapa Produk Akhir Jadi Kunci

Direktur INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah menilai lonjakan permintaan itu sebagai peluang besar. Menurut dia, kuncinya adalah memperdalam hilirisasi sampai produk akhir. Indonesia tidak boleh berhenti pada produk antara.

Ia menjelaskan bahwa pengolahan hingga produk jadi akan memperkuat keterkaitan industri. Rantai pasok lokal ikut terlibat lebih luas, mulai dari pemasok komponen hingga jasa pendukung. Semakin kompleks produk yang dihasilkan, semakin besar dampak ekonomi yang dirasakan di dalam negeri.

Pandangan itu sejalan dengan pengalaman sejumlah negara produsen bahan mentah. Negara yang hanya mengekspor bahan mentah cenderung mendapat nilai tambah kecil. Sebaliknya, negara yang mengolah hingga produk jadi bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja dan teknologi.

Pandangan Asosiasi Pertambangan

Ketua Umum Indonesian Mining Association Rachmat Makkasau menegaskan bahwa nilai tambah tertinggi berada di sektor hilir. Menurut dia, peningkatan kapasitas produksi perlu dijalankan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, seluruh rantai pasok bisa mengoptimalkan nilai tambahnya.

IMA adalah asosiasi yang menghimpun perusahaan tambang besar di Indonesia. Pernyataan ketuanya memberi sinyal bahwa industri tidak menolak hilirisasi, tetapi ingin prosesnya berjalan terukur. Asosiasi juga berkepentingan agar pasokan bijih tetap tersedia bagi smelter yang sudah beroperasi.

Menurut IMA, persetujuan revisi RKAB 2026 untuk nikel dan batu bara berjalan bertahap. Sejumlah perusahaan sudah mendapat lampu hijau, tetapi rincian volume tambahan tidak selalu diumumkan. Pemerintah beralasan pengumuman angka bisa menggerakkan harga di pasar internasional.

Proyek Hilirisasi yang Sedang Berjalan

Integrasi hilir mulai terlihat melalui Grup MIND ID bersama PT Aneka Tambang Tbk dan Indonesia Battery Corporation. Bersama konsorsium CATL, Brunp, dan Lygend melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery, IBC mengembangkan pabrik baterai di Karawang. Kapasitas awalnya 6,9 GWh dengan target ekspansi hingga 15 GWh.

Pemerintah juga meresmikan proyek hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Kawasan itu memproduksi material baterai berbasis nikel, baterai, aluminium elektrolit, dan alat berat berbasis listrik secara terintegrasi. Pola kawasan terpadu dipilih agar rantai pasok berada dalam satu lokasi.

Bagi daerah penghasil nikel seperti Luwu Timur, proyek semacam ini menjadi pembanding sekaligus tantangan. SuaraLutim sebelumnya mencatat target ekspor nikel senilai 45 miliar dolar yang digagas pemerintah. Target itu hanya bisa dicapai jika kapasitas pengolahan dalam negeri ikut naik.

Selain kapasitas, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penentu. Industri baterai membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan teknis yang lebih tinggi daripada pertambangan bijih. Karena itu, pelatihan dan pendidikan vokasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda hilirisasi.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga