Tambang nasional di Sulawesi Tenggara meninggalkan bekas kerusakan yang tidak bisa ditutup hanya dengan menanam pohon. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan pendekatan berbasis bioremediasi dan fitoremediasi untuk memulihkan fungsi ekologis lahan bekas tambang di wilayah itu.
Tambang Nasional: BRIN Uji Bioremediasi di Sultra
Pendekatan tersebut dibahas dalam focus group discussion di Gedung Rektorat Universitas Halu Oleo, Kendari, Rabu (14/10/2026). Forum itu mempertemukan peneliti BRIN dengan lima perguruan tinggi untuk merancang langkah pemulihan yang sesuai karakteristik lokal.
BRIN menjalankan agenda ini melalui Pusat Kolaborasi Riset Biodiversity Lahan Tambang. Fokusnya bukan sekadar menghijaukan kembali lahan gundul, melainkan memulihkan fungsi tanah, air, dan vegetasi agar lahan kembali memberi manfaat.
Halaman resmi BRIN menyebut agenda ini sebagai dorongan riset teknologi restorasi ekosistem di Sulawesi Tenggara. Peneliti dari beberapa pusat riset dilibatkan agar pendekatan yang dipilih tidak bergantung pada satu disiplin.
Laporan Dunia Energi menyebut kerusakan lahan tambang di Sultra dinilai semakin sulit dikendalikan. Karena itu, BRIN mencari cara pemulihan yang lebih ilmiah dan dapat diuji, bukan pendekatan seragam dari daerah lain.
Persoalan ini relevan bagi banyak daerah tambang di Indonesia. Ketika produksi berjalan, kewajiban reklamasi dan pascatambang ikut melekat. Kualitas pelaksanaannya menentukan apakah warga sekitar masih bisa hidup dari tanah dan air di sekitarnya.
Teknologi yang Sudah Diuji di Kaltara dan Bangka Belitung
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Rubiyo, mengatakan pendekatan berbasis tanaman sudah terbukti membantu pemulihan lahan bekas tambang batu bara di Kalimantan Utara. Pengalaman serupa juga diperoleh dari tambang timah di Bangka Belitung.
“Pengalaman penelitian di sana menunjukkan pendekatan berbasis tanaman dapat membantu proses pemulihan lahan. Potensi ini perlu dikaji untuk kondisi Sulawesi Tenggara karena setiap kawasan punya karakteristik tanah dan gangguan yang berbeda,” kata Rubiyo seperti dikutip Inisultra.
Ia menegaskan pemulihan bukan hanya soal lahan terlihat hijau. “Yang lebih penting adalah bagaimana fungsi ekologis tanah dapat diperbaiki, vegetasi dapat tumbuh berkelanjutan, dan lahan kembali memberi manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat,” ujarnya.
Dua pendekatan yang disiapkan bekerja dengan cara berbeda. Bioremediasi memanfaatkan organisme biologis untuk merombak pencemar di tanah. Fitoremediasi memakai tanaman untuk menyerap dan menstabilkan logam berat sisa pengolahan tambang.
Kombinasi keduanya diharapkan memperbaiki struktur tanah, mengurangi kandungan pencemar, dan membuka jalan bagi vegetasi untuk tumbuh tanpa bantuan terus-menerus. Pendekatan ini menuntut pemantauan jangka panjang, bukan hasil instan dalam satu musim tanam.
Lima Kampus Dilibatkan
BRIN mengonsolidasikan peneliti dari Universitas Halu Oleo, Universitas Lakidende, Universitas Muhammadiyah Kendari, Universitas Muhammadiyah Buton, dan UIN Kendari. Kelimanya dilibatkan agar rekomendasi yang dihasilkan sesuai kondisi tanah dan masyarakat setempat.
Kolaborasi ini menempatkan karakteristik lokal sebagai dasar perumusan teknologi. Setiap kawasan tambang di Sultra dinilai punya jenis tanah, tingkat gangguan, dan tekanan sosial ekonomi yang berbeda. Menyalin model dari daerah lain tanpa penyesuaian berisiko gagal.
Keterlibatan kampus juga memperluas kapasitas riset daerah. Peneliti lokal bisa melanjutkan pemantauan setelah forum selesai, sementara BRIN menyediakan metode dan pengalaman dari wilayah lain. Pola ini membuat pengetahuan tidak berhenti di Jakarta.
Selain itu, kampus diharapkan membantu menerjemahkan hasil riset menjadi rekomendasi yang bisa dipakai pemerintah daerah dan perusahaan pemegang izin tambang. Bahasa ilmiah perlu diterjemahkan menjadi langkah teknis yang bisa dijalankan di lapangan.
Model kolaborasi semacam ini juga bisa menjadi jalan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam riset terapan. Mereka tidak hanya membaca laporan, tetapi ikut mengukur kondisi tanah dan air di kawasan yang terdampak.


