Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Nasional: BRIN Uji Bioremediasi Lahan Bekas Tambang

18 Oktober 2026 • zul • 34 kali dibaca
Danau Kaolin, bekas area tambang timah di Bangka Belitung
Paninalone, CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Kerusakan Tidak Cukup Dinilai dari Lahan Gundul

Peneliti BRIN La Sinaini mengingatkan kerusakan akibat tambang masif di Sultra tidak bisa dilihat hanya dari luas lahan yang rusak. Perubahan kualitas tanah dan air, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga dampak sosial ekonomi harus diteliti secara terintegrasi.

“Persoalan lingkungan akibat pertambangan tidak dapat diselesaikan hanya dengan melihat kondisi lahan yang rusak. Pendekatan riset yang terintegrasi sangat dibutuhkan agar pemulihan benar-benar didasarkan pada bukti ilmiah,” kata La Sinaini.

Pandangan itu penting karena pencemaran sering berpindah bentuk. Tanah yang ditutup vegetasi bisa tetap menyimpan logam berat. Air yang tampak jernih bisa mengandung sedimen atau zat terlarut yang tidak terlihat mata.

Dampak sosial ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Warga yang bergantung pada lahan dan air sekitar tambang menanggung risiko paling langsung. Pemulihan yang tidak mempertimbangkan kebutuhan mereka berpotensi menciptakan konflik baru.

Tata Atur
Iklan

Karena itu, penelitian yang baik perlu menggabungkan uji tanah, kualitas air, pemantauan vegetasi, dan penilaian mata pencaharian warga. Data semacam itu lebih mahal, tetapi jauh lebih berguna daripada laporan reklamasi yang hanya berbasis foto.

Mengapa Reklamasi Menjadi Isu Penting

Sulawesi Tenggara adalah salah satu pusat pertambangan nikel di Indonesia. Aktivitas tambang membuka lahan, memindahkan tanah, dan mengubah bentang alam dalam skala besar. Jejaknya bertahan jauh lebih lama daripada masa produksi.

Reklamasi yang gagal meninggalkan lahan kritis, erosi, dan air asam tambang. Biaya memperbaikinya di kemudian hari biasanya lebih besar daripada biaya pencegahan saat operasi masih berjalan. Karena itu, metode yang murah dan terbukti menjadi kebutuhan.

BRIN menawarkan pendekatan yang memanfaatkan organisme dan tanaman lokal. Jika berhasil, cara ini bisa menekan ketergantungan pada bahan kimia dan mengurangi biaya perawatan jangka panjang. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi setempat.

Bagi perusahaan, metode ini juga bisa menjadi acuan dalam menyusun program pascatambang. Bagi pemerintah daerah, hasil riset dapat dipakai untuk menilai apakah reklamasi yang dijanjikan benar-benar berjalan, bukan hanya ada di dokumen.

Tekanan pasar juga ikut berperan. Pembeli nikel dan mitra industri semakin sering meminta bukti praktik lingkungan yang baik. Reklamasi yang bisa diukur menjadi nilai tambah, bukan sekadar biaya kepatuhan yang dibayar karena kewajiban.

Isu tambang lain yang juga menjadi perhatian adalah penindakan penambangan emas tanpa izin di Bungo, seperti dibahas dalam artikel Tambang Nasional: PETI Emas Bungo dan Empat Tersangka. Sementara itu, pasar nikel global yang tumbuh 21,39 persen diulas dalam laporan Tambang Indonesia: Pasar Nikel Global Tumbuh 21,39 Persen.

Apa yang Diketahui dan Belum Terkonfirmasi

Yang diketahui, BRIN menggelar FGD di Kendari pada 14 Oktober 2026 dan melibatkan lima kampus. Mereka membahas bioremediasi dan fitoremediasi untuk lahan bekas tambang di Sultra. Teknologi serupa disebut sudah diuji di Kalimantan Utara dan Bangka Belitung.

Belum diketahui berapa luas lahan yang akan menjadi lokasi uji, berapa lama penelitian berjalan, dan siapa yang membiayai tahap implementasi. Belum ada pula rincian target capaian yang bisa diukur publik.

Hasil uji di Sultra juga belum ada. Semua pembahasan masih berada pada tahap perumusan metode. Karena itu, klaim bahwa bioremediasi akan berhasil di Sultra harus dibaca sebagai harapan berbasis pengalaman, bukan hasil yang sudah terbukti.

Langkah Berikutnya

Tahap berikutnya adalah menyusun rencana riset yang lebih rinci, termasuk pemilihan lokasi dan parameter keberhasilan. Tanpa ukuran yang jelas, sulit menilai apakah pemulihan berjalan atau hanya menghasilkan laporan.

Keterlibatan pemerintah daerah dan pemegang izin tambang menjadi kunci. Riset tanpa akses ke lokasi dan data operasi akan berhenti sebagai kajian akademik. Sebaliknya, kolaborasi yang terbuka bisa menghasilkan metode yang benar-benar dipakai.

Publik juga perlu mendapat informasi yang mudah dipahami. Warga di sekitar tambang berhak tahu apa yang sedang diuji, apa risikonya, dan kapan hasilnya bisa dinilai. Keterbukaan itu penting agar program pemulihan tidak kehilangan kepercayaan.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa itu bioremediasi dan fitoremediasi?

Bioremediasi memakai organisme biologis untuk merombak pencemar di tanah. Fitoremediasi memakai tanaman untuk menyerap dan menstabilkan logam berat sisa pengolahan tambang.

Di mana teknologi ini sudah diuji?

Menurut peneliti BRIN, pendekatan berbasis tanaman sudah diuji pada lahan bekas tambang batu bara di Kalimantan Utara dan tambang timah di Bangka Belitung.

Kapan hasil riset di Sulawesi Tenggara tersedia?

Belum ada jadwal resmi. Forum pada 14 Oktober 2026 baru tahap perumusan metode bersama lima perguruan tinggi di Kendari.

Baca juga

Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga