Harapan pada Proyek Hidrometalurgi 2027
FINI memperkirakan produksi nikel olahan nasional kembali melonjak pada 2027. Lonjakan itu ditopang selesainya tahap konstruksi dan masuknya fase komisioning proyek fasilitas pengolahan berbasis hidrometalurgi.
Kapasitas produksi mixed hydroxide precipitate nasional yang tercatat 450 ribu ton nikel pada 2025 diperkirakan menembus lebih dari 900 ribu ton nikel pada akhir 2027. Produk tersebut menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
Peningkatan kapasitas itu berpotensi mengubah komposisi produk nikel nasional. Jika proyek proyek baru berjalan sesuai jadwal, porsi produk setengah jadi berbasis pyrometalurgi akan menyusut dan porsi produk baterai akan membesar.
Namun, jadwal komisioning proyek hidrometalurgi sangat bergantung pada kesiapan pasokan bijih, biaya energi, dan harga bahan kimia pendukung. Ketiga faktor itu masih menjadi risiko yang berulang kali disorot pelaku industri sepanjang 2026.
Dampak bagi Industri dan Daerah Penghasil
Penurunan produksi olahan nikel berdampak langsung pada daerah penghasil di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Ketiga wilayah itu menjadi pusat smelter dan kawasan industri nikel nasional dalam satu dekade terakhir.
Bagi pemerintah daerah, volume produksi menentukan penerimaan dari dana bagi hasil dan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri. Perlambatan pengolahan bisa menekan penerimaan daerah sekaligus menurunkan permintaan jasa logistik dan konstruksi.
Bagi perusahaan, penurunan produksi dapat membantu menjaga margin ketika harga komoditas rendah. Sebaliknya, pemangkasan produksi juga menekan volume penjualan dan mengerek biaya tetap per unit yang diproduksi. Artikel terkait arah industri ini pernah dibahas SuaraLutim dalam laporan tentang peluncuran sebelas proyek hilirisasi nikel dan ulasan tentang proyeksi pasar nikel sampai 2030.
Bagi pemerintah pusat, volume produksi yang stabil menentukan penerimaan negara bukan pajak dari sektor mineral. Pemangkasan kuota bijih memang menahan pasokan, tetapi juga mengurangi setoran dari royalti dan penjualan produk olahan pada tahun berjalan.
Pelaku industri berharap kejelasan kebijakan keluar sebelum penyesuaian kontrak jangka panjang dengan pembeli di luar negeri. Kepastian volume produksi menjadi dasar negosiasi harga serta jadwal pengiriman produk setengah jadi maupun produk baterai.
Apa yang Belum Terkonfirmasi
Sejumlah hal terkait produksi nikel 2026 masih belum final. Pemerintah belum menerbitkan keputusan resmi soal moratorium smelter setengah jadi. Begitu pula besaran pemangkasan kapasitas produksi per perusahaan, yang masih dalam tahap pengkajian kementerian.
Proyeksi FINI juga belum memasukkan kemungkinan perubahan kebijakan harga patokan mineral dan pungutan ekspor produk turunan nikel. Kedua kebijakan itu masih dirumuskan dan dapat mengubah perhitungan biaya pelaku usaha.
Selain itu, realisasi produksi akhir tahun bisa berbeda dari proyeksi karena faktor teknis di lapangan. Perawatan pabrik, cuaca, dan gangguan pasokan bahan bakar termasuk faktor yang sulit diperkirakan sejak awal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa besar penurunan produksi nikel olahan pada 2026?
FINI memproyeksikan penurunan sekitar 3,5 sampai 4 persen dibandingkan capaian 2025 yang mencapai 2,5 juta ton nikel. Angka itu dihitung dari estimasi realisasi pengolahan sampai akhir tahun.
Apa penyebab utama penurunan produksi?
Penyebab utamanya adalah pasokan global yang berlebih, harga nikel yang tertekan, dan pemangkasan kuota bijih pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya 2026. Sebagian smelter juga menyesuaikan operasi menunggu kejelasan kebijakan.
Kapan produksi nikel diperkirakan kembali naik?
FINI memperkirakan kenaikan terjadi pada 2027 seiring selesainya konstruksi dan komisioning proyek hidrometalurgi. Kapasitas produk mixed hydroxide precipitate diproyeksikan melewati 900 ribu ton nikel pada akhir 2027.


