SuaraLutim.com, Luwu Timur – Sebanyak 10.000 ton jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dimuat di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar untuk dikirim ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Perum Bulog menyebut langkah itu sebagai percepatan pasokan jagung pakan bagi peternak mikro di Pulau Jawa, dengan stok jagung Sulawesi Selatan sekitar 18.000 ton dan potensi tambahan dari panen November. Bagi Luwu Timur, nilai beritanya bukan pada angka 10.000 ton, melainkan pada arah kebijakan: pakan ternak kini diperlakukan sebagai rantai pasok yang dijamin negara. Di titik itu, kaderisasi HIPMI Sulawesi Selatan yang dipimpin Andi Amar Ma’ruf Sulaiman bersinggungan langsung dengan kebutuhan pasar.
HIPMI Sulawesi Selatan dan Arah Baru Rantai Pakan
Andi Amar Ma’ruf Sulaiman adalah Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Gerindra yang duduk di Komisi III, dengan daerah pemilihan Sulawesi Selatan II. Di luar parlemen, ia menjabat Ketua Umum Badan Pengurus Daerah HIPMI Sulawesi Selatan periode 2024–2027. Organisasi itu membawahi HIPMI kabupaten dan kota, termasuk ruang kaderisasi pengusaha muda di Luwu Timur, sejalan dengan program pelatihan kewirausahaan yang berjalan di daerah itu.
Ketika pemerintah menata ulang rantai jagung pakan, yang dibutuhkan bukan hanya petani yang menanam, tetapi juga pengusaha yang mengelola pasokan, menyimpan, mengangkut, dan menjaga mutu. Artikel ini tidak mengutip pernyataan baru Andi Amar mengenai jagung, karena sampai artikel dibuat tidak ada kegiatan resmi dirinya pada 30 Oktober–1 November 2026 yang bisa diverifikasi dari sumber mana pun.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Jagung Sulsel ke Jawa: Angka yang Perlu Dibaca
Laporan ANTARA, 22 Oktober 2026, menyebut Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani meninjau langsung pemuatan jagung di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar. Dari kapasitas angkut 10.000 ton, 8.214 ton sudah dimuat saat peninjauan. Estimasi pelayaran ke Tanjung Perak sekitar tiga hari.
Angka itu bukan pengiriman tunggal. Bulog juga menyiapkan sekitar 15.000 ton dari Gorontalo dan memobilisasi sekitar 8.000 ton dari Nusa Tenggara Barat, sehingga total sekitar 33.000 ton digerakkan untuk memperkuat ketersediaan jagung pakan bagi peternak mikro di Jawa. Bulog menegaskan distribusi tetap mempertimbangkan pasokan di daerah asal.
Ada satu detail yang jarang dibahas: pengiriman ini disebut sebagai tindak lanjut atas aspirasi peternak mikro yang sebelumnya disampaikan kepada Komisi IV DPR RI. Artinya, keluhan peternak kecil soal harga dan ketersediaan pakan sudah masuk ke jalur kebijakan, bukan lagi keluhan yang berhenti di kandang.
Kemitraan Jagung Pakan dan Anggaran Rp600 Miliar
Sehari setelah pengiriman itu jadi sorotan, Kementerian Pertanian menggelar Rapat Koordinasi Kemitraan Jagung Pakan di Auditorium Gedung F, Jakarta, Selasa (27/10/2026), seperti dilaporkan laman resmi Kementerian Pertanian. Rapat itu melibatkan ketua koperasi, kelompok tani dan gapoktan, perwakilan Perum Bulog, serta pemangku kepentingan dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, DIY, Jawa Barat, dan Banten.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah menyiapkan Rp300 miliar untuk pengadaan benih jagung pakan, dengan rencana Rp300 miliar lagi pada tahun berikutnya. Kebutuhan jagung peternak disebut sekitar 1,8 juta ton, sementara penanaman ditargetkan hingga 300 ribu hektare.
Skemanya dirancang berantai: kelompok tani dibina memenuhi kebutuhan jagung pakan, koperasi mengorganisasi petani dan memperkuat kemitraan, kelompok peternak menjadi mitra penyerapan hasil panen, dan kelebihan produksi dapat diserap Perum Bulog. “Kita bangun sistem dari hulu ke hilir, kalau tidak, ini peternak terus menerus berteriak,” kata Mentan, dikutip laman resmi Kementerian Pertanian.
Bagi pengusaha muda, pola itu menyiratkan satu hal: yang dibutuhkan pasar bukan hanya hasil panen, tetapi jasa penyediaan benih, penyimpanan, pengeringan, transportasi, dan pencatatan mutu. Semua itu pekerjaan usaha, bukan pekerjaan tani semata.


