Apa yang disampaikan pemerintah daerah
Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Puspawati Husler membacakan sambutan Bupati Luwu Timur yang berisi penghargaan atas jasa almarhum dalam bidang pendidikan dan dakwah. Pemerintah daerah berharap Ponpes Nurul Junaidiyah terus berperan dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia.
Penghargaan semacam itu penting dicatat apa adanya. Ia adalah pengakuan atas jasa, bukan janji bantuan. Sampai kegiatan berlangsung, tidak ada keterangan resmi mengenai bentuk dukungan anggaran pemerintah daerah untuk pesantren ini, sehingga pembaca sebaiknya tidak menyimpulkan adanya alokasi tertentu dari pernyataan tersebut.
Yang bisa dipastikan adalah kehadiran sejumlah pejabat dan anggota dewan. Kehadiran itu menunjukkan bahwa agenda pesantren di Burau masih masuk dalam perhatian pemerintah kabupaten, setidaknya pada tingkat kehadiran dan penghargaan.
Bagi masyarakat Burau, haul juga berfungsi sebagai agenda sosial. Santri, orang tua santri, dan warga berkumpul dalam satu kegiatan yang jarang terjadi di luar momen keagamaan. Di daerah dengan jarak antardesa yang cukup jauh, pertemuan semacam ini punya nilai tersendiri.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Jejak yang lebih panjang dari satu haul
Nurcholish Aziz bukan nama baru dalam pemberitaan pesantren di Burau. Pada awal Oktober 2026, SuaraLutim pernah mengulas keterkaitannya dengan dunia pesantren dalam artikel PAN Luwu Timur: Nurchalis Azis dan jejak pesantren Burau. Sebelumnya, pada akhir September 2026, aspirasi warga Wotu–Burau yang dikawalnya juga pernah diberitakan dalam laporan PAN Luwu Timur: Nurchalis Azis kawal aspirasi Wotu–Burau.
Bagi pembaca yang mengikuti jejak anggota dewan dari Fraksi PAN, dua laporan itu memberi konteks: kerja legislatif di komisi, dan keterlibatan dalam lembaga pendidikan di daerah pemilihannya. Haul 25 Oktober melengkapi gambaran itu dari sisi yang lebih personal — sebagai keluarga pendiri pesantren.
Yang perlu ditekankan, keterlibatan semacam ini tidak otomatis berarti program. Ia lebih tepat dibaca sebagai bagian dari peran sosial seorang tokoh di daerah pemilihannya. Penilaian atas dampaknya memerlukan bukti yang lebih konkret: jumlah santri, kualitas lulusan, dan keberlanjutan fasilitas.
Untuk konteks kebijakan pendidikan keagamaan, publik bisa merujuk laman Kementerian Agama. Di sana tersedia informasi mengenai program pendidikan pesantren dan ketentuan yang berlaku bagi lembaga pendidikan keagamaan.
Harapan yang diletakkan pada pesantren
Dalam banyak peringatan haul di pesantren, harapan yang disampaikan berulang: agar generasi berikutnya tidak hanya melanjutkan bangunan, tetapi juga merawat cara pendiri bekerja. Bagi Nurul Junaidiyah Lauwo, itu berarti menjaga proses belajar tetap berjalan ketika perhatian publik sudah berpindah ke agenda lain.
Peresmian kelas baru memberi satu ruang tambahan. Penanaman bibit alpukat memberi satu pohon yang butuh waktu bertahun-tahun untuk berbuah. Dua hal itu, ditambah ziarah ke makam pendiri, membentuk rangkaian yang cukup jujur tentang cara kerja pendidikan di daerah: lambat, bertahap, dan bergantung pada orang-orang yang mau meneruskan.
Bagi warga Burau dan Luwu Timur umumnya, yang bisa diambil dari haul ke-6 ini bukan angka, melainkan catatan tentang sebuah lembaga yang bertahan melewati enam tahun tanpa pendirinya. Keberlanjutan itulah yang kini menjadi pekerjaan generasi sesudahnya.
Siapa pendiri Ponpes Nurul Junaidiyah Lauwo?
Pesantren itu dirintis oleh H. Abdul Aziz Rajmal, yang meninggal dunia dan diperingati haulnya untuk keenam kali pada 25 Oktober 2026. Acara berlangsung di Desa Lauwo, Kecamatan Burau, Luwu Timur.
Apa saja rangkaian kegiatan haul ke-6?
Doa bersama dan kesaksian keluarga, ziarah ke makam pendiri, peresmian bangunan kelas baru santri, serta penanaman bibit alpukat di lingkungan pesantren.
Siapa Nurcholish Aziz dalam konteks artikel ini?
Ia adalah putra pendiri sekaligus pimpinan Ponpes Nurul Junaidiyah Lauwo, dan tercatat sebagai anggota DPRD Luwu Timur dari Fraksi PAN untuk daerah pemilihan Luwu Timur 3, Wotu–Burau.
Sumber: Luwuraya.com (“Nurcholish Aziz Kenang Keikhlasan Ayahnya Merintis Ponpes Nurul Junaidiyah”, 25–26 Oktober 2026), Sarambang.id (susunan fraksi DPRD Luwu Timur 2024–2029), Keputusan DPRD Kabupaten Luwu Timur Nomor 24 Tahun 2024 sebagaimana dirujuk pada laporan terkait, Kementerian Agama Republik Indonesia, serta arsip pemberitaan SuaraLutim.
Baca juga
- PAN Luwu Timur: Harisah Suharjo Serap Aspirasi Wasuponda
- PAN Luwu Timur: APBD 2027 Diminta Berpihak ke Petani
- Andi Amar: Anggaran BNN Naik, Rehabilitasi Ditanggung Negara
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


