Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
SUARALUTIM.COM, MALILI — Produk keripik pisang, aneka keripik, sampai anyaman pengrajin Luwu Timur berdiri di salah satu panggung paling ramai Sulawesi Selatan pekan ini. PT Vale Indonesia Tbk membawa UMKM binaan dari wilayah operasional Sorowako ke Expo UMKM dan Kuliner di Lapangan Hasanuddin, Makassar, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Provinsi Sulawesi Selatan ke-357, Minggu (18/10/2026). Bagi pembaca yang mengikuti pariwisata Lutim, kehadiran itu bukan sekadar pameran dagang. Etalase di kota besar adalah ujung depan dari rantai yang menentukan apakah wisatawan pulang membawa oleh-oleh, atau pulang tanpa meninggalkan apa pun bagi warga.
Pameran itu berjalan sejak Jumat (16/10/2026) bersamaan dengan job fair yang dibuka Vale Indonesia. Perusahaan menempatkan dua hal berdampingan: produk UMKM dan peluang kerja. Dalam keterangan resminya, Vale menyebut partisipasi tersebut sebagai bagian dari komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi daerah, dan kesempatan kerja di Sulawesi Selatan.
Baca juga: Pariwisata Lutim: Malili Dominasi Kunjungan, Towuti 8.423; Tambang Lutim: Vale Bawa 37 Produk UMKM Binaan ke Jakarta; Luwu Timur: Lada dan Vanili Didorong Tembus Pasar Nasional.
Pariwisata Lutim dan Etalase yang Dibawa ke Makassar
Yang dipamerkan bukan benda asing bagi warga Sorowako. Ada keripik pisang, aneka keripik lain, dan produk anyaman hasil pengrajin lokal Luwu Timur. Semuanya barang yang sehari-hari dibuat di dapur rumah dan bengkel kecil, bukan di pabrik dengan lini produksi panjang.
Director and Chief of Project Officer Vale Indonesia, Muhammad Asril, menempatkan UMKM sebagai bagian dari perjalanan perusahaan. “Pengembangan UMKM merupakan salah satu fokus program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Perusahaan. UMKM lokal tentu menjadi bagian yang sangat penting dari perjalanan pertumbuhan kami,” kata Asril dalam keterangan yang dikutip Kabar Lutim.
Ia menambahkan bahwa investasi perusahaan di Luwu Timur turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, dan dampaknya perlu diperkuat lewat sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Pernyataan semacam ini biasa muncul di siaran pers. Yang membuatnya relevan bagi pariwisata adalah tempat produk itu dipajang: sebuah perayaan provinsi yang dikunjungi ribuan orang, bukan rak pasar desa.
Mengapa Oleh-oleh Menentukan Panjangnya Masa Tinggal
Dalam pola perjalanan wisata, oleh-oleh adalah pengeluaran terakhir yang paling mudah terjadi. Wisatawan bisa menunda makan di restoran mahal, menunda menyewa perahu, atau memilih penginapan termurah. Tetapi ketika hendak pulang, hampir selalu ada dorongan membawa sesuatu untuk keluarga dan rekan kerja.
Bagi Luwu Timur, celah itulah yang belum tergarap rapi. Kunjungan ke kawasan Danau Matano, Towuti, dan Mahalona sudah tercatat dalam angka kunjungan tahunan. Namun selama bertahun-tahun,cerita yang dibawa pulang wisatawan lebih banyak berupa foto, bukan produk. Padahal setiap kunjungan yang berakhir tanpa belanja lokal berarti uang berputar lebih pendek di kampung-kampung sekitar danau.
Keripik pisang dan anyaman punya keunggulan yang jarang disadari: keduanya ringan, tahan perjalanan, dan bisa dibeli dalam jumlah banyak. Dua sifat itu persis yang dibutuhkan wisatawan yang harus menempuh perjalanan darat panjang dari Malili ke Makassar, atau terbang dari bandara Sorowako.
Persoalannya bergeser ke tiga hal teknis: kemasan, ketahanan produk, dan kesinambungan pasokan. Keripik dalam kantong plastik tanpa label memang murah, tetapi sulit dijual sebagai buah tangan di toko oleh-oleh atau hotel. Anyaman yang indah pun akan sulit dipromosikan tanpa cerita pengrajinnya. Di titik inilah pendampingan menjadi penentu, bukan sekadar keikutsertaan dalam pameran.


