Tawaran Korea Selatan: dari batu bara ke baterai
Perwakilan KOMIR, Eul Roh, menyebut Indonesia dan Korea Selatan punya kekuatan yang saling melengkapi. Indonesia memiliki sumber daya, pengolahan hasil tambang, dan target ekosistem kendaraan listrik. Korea Selatan punya pasar, teknologi baterai, serta pengalaman daur ulang dan reklamasi tambang.
Ia merangkum kerja sama itu dengan kalimat singkat, bahwa kemitraan kedua negara bergerak dari batu bara ke baterai. Pernyataan itu mencerminkan perubahan fokus investasi Korea di Indonesia. Sektor energi fosil perlahan digeser oleh rantai pasok baterai.
KOMIR berharap standar kerja sama ditingkatkan, mencakup penggunaan energi bersih, pengelolaan air dan limbah, perizinan yang terprediksi, kepercayaan masyarakat, dan akses pasar baterai global. Menurut Eul Roh, tidak ada satu perusahaan yang bisa menyelesaikan semua itu sendiri.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Daur ulang limbah tambang sebagai peluang baru
Daur ulang limbah tambang menjadi salah satu topik yang dibahas. Limbah pengolahan masih mengandung mineral berharga yang bisa dipulihkan dengan teknologi tepat. Korea Selatan memiliki pengalaman dalam mengolah material sisa dan merehabilitasi lahan bekas tambang.
Bagi Indonesia, pendekatan ini menawarkan dua manfaat. Pertama, mengurangi volume limbah yang harus ditampung. Kedua, menambah pasokan mineral kritis tanpa membuka tambang baru. Tekanan lingkungan dari kegiatan pertambangan pun bisa ditekan.
Kepala Departemen Downstream and Mineral Ecosystem MIND ID Novi Muharam memperkirakan permintaan mineral kritis naik dua sampai lima kali lipat pada 2050. Ia menyebut kebutuhan timah di pusat data mencapai 4,5 sampai 5 kilogram per megawatt, jauh di atas kebutuhan pembangkit konvensional.
Tantangan yang belum selesai
Ada beberapa pekerjaan rumah. Regulasi daur ulang limbah tambang belum terintegrasi antar kementerian. Pengawasan mutu hasil daur ulang juga memerlukan laboratorium dan standar yang jelas.
Untuk bursa, tantangan terbesarnya adalah kepercayaan pasar. Penjual dan pembeli harus yakin harga yang terbentuk mencerminkan transaksi nyata. Pemerintah perlu melibatkan pelaku usaha sejak perancangan, bukan setelah sistem berjalan.
Apa yang diketahui
ESDM sedang menyiapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis untuk memperkuat perdagangan mineral. Pengawasan digital dilakukan lewat Minerba One yang terhubung dengan SIMBARA. Rencana ini disampaikan dalam forum Indonesia-Korea di Denpasar, 28 Oktober 2026.
Pemerintah menargetkan ekspor hilirisasi nikel 45 miliar dolar Amerika Serikat pada akhir 2026. Realisasi sampai Agustus 2026 sekitar 25,6 miliar dolar menurut CNBC Indonesia, atau 25,96 miliar dolar menurut Liputan6. Kebijakan hilirisasi diarahkan pada proyek yang layak secara komersial dan lingkungan.
Korea Selatan menawarkan kerja sama teknologi baterai, daur ulang, dan reklamasi tambang. MIND ID memperkirakan permintaan mineral kritis naik dua sampai lima kali lipat pada 2050. Topik hilirisasi juga dibahas dalam Hilirisasi Nikel Naik Kelas ke Baja Nirkarat Krakatau Steel dan Tambang Nasional: Penjualan Emas Freeport Anjlok 70 Persen.
Apa yang belum terkonfirmasi
Belum ada peraturan resmi yang menjadi dasar hukum operasional bursa. Pemerintah belum mengumumkan penyelenggara, daftar komoditas awal, maupun jadwal peluncuran. Karena itu, mekanisme harga masih berupa rencana.
Rincian kerja sama daur ulang dengan KOMIR juga belum berbentuk perjanjian. Forum tersebut menghasilkan kesepahaman arah, bukan kontrak investasi. Belum ada nilai proyek atau lokasi fasilitas yang disepakati.
Angka target ekspor 45 miliar dolar bergantung pada realisasi kuartal IV. Sampai artikel ini disusun, belum ada proyeksi resmi terbaru setelah Agustus. Pembaca perlu membedakan target, realisasi, dan proyeksi dalam membaca data tersebut.
FAQ seputar Bursa Mineral
Apa fungsi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis?
Bursa itu dirancang sebagai pasar komoditas mineral dengan harga acuan yang transparan. Tujuannya memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan mineral strategis dan mengurangi ketergantungan pada indeks harga luar negeri.
Sudah berapa nilai ekspor hilirisasi nikel tahun ini?
Hingga Agustus 2026, nilainya sekitar 25,6 miliar dolar Amerika Serikat menurut CNBC Indonesia. Liputan6 menulis 25,96 miliar dolar. Pemerintah menargetkan setidaknya 45 miliar dolar sampai akhir 2026.
Mengapa Korea Selatan terlibat dalam daur ulang limbah tambang?
Korea Selatan memiliki teknologi baterai, pengalaman daur ulang, dan reklamasi lahan bekas tambang. Indonesia memiliki sumber daya dan fasilitas pengolahan, sehingga kedua negara menilai kerja sama itu saling melengkapi.
Sumber utama artikel ini adalah pemaparan ESDM dan KOMIR yang dikutip Antara, CNBC Indonesia, dan Liputan6.
Baca juga
- Viral Hari Ini: 68 Tewas dalam Tabrakan Kereta di Spanyol
- Politik Nasional: MK Ubah Aturan Pemberhentian Kepala Daerah
- Berita Viral: Polri Tetapkan 20 Korporasi Tersangka Karhutla
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


