Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Lutim, SuaraLutim – Hilirisasi nikel di Sulawesi kembali diuji dari sisi
lingkungan. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas meminta limbah industri pengolahan
nikel, termasuk slag, tidak dibiarkan masuk ke badan air, sungai, lalu terbawa sampai ke
pesisir. Permintaan itu muncul di tengah ekspansi pabrik pengolahan nikel yang membuat volume residu
industri ikut bertambah, sementara Luwu Timur berada di kawasan danau purba Matano dan Towuti yang
menjadi bagian hidup warga Nuha, Towuti, dan sekitarnya.
Hilirisasi nikel dan badan air: permintaan Bappenas
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi, mengatakan pengelolaan
lingkungan pada kegiatan pertambangan nikel perlu diintegrasikan antara wilayah darat dan laut.
Menurutnya, perangkat regulasinya sudah tersedia, tetapi pelaksanaan dan pemantauannya masih butuh
penguatan.
“Regulasi kita sudah cukup, terutama untuk pertambangan. Ada kewajiban Amdal dan KLHS.
Dengan adanya integrasi darat-laut ini menjadi diperkuat lagi,” kata Nizhar dalam acara
Solusi Day bertajuk “Integrasi Darat dan Laut untuk Indonesia Tangguh dan Lestari”
di Jakarta, Senin (28/9/2026), seperti dikutip
Nikel.co.id.
Ia menyoroti satu hal yang paling perlu dijaga: limbah maupun slag dari aktivitas
pertambangan nikel jangan sampai masuk ke badan air. Menurut Nizhar, bila limbah sudah terbawa ke
sungai lalu ke pesisir, dampaknya lebih sulit dan lebih mahal untuk ditangani dibandingkan
pengelolaan sejak dari lokasi kegiatan.
“Limbah ataupun slag itu jangan sampai masuk ke badan air, sungai, dan terbawa sampai ke
pesisir,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa perusahaan yang terbukti menjadi sumber pencemaran
akan diminta melakukan rehabilitasi. Ia menilai biaya rehabilitasi di wilayah hilir jauh lebih besar
daripada biaya pengelolaan di sumbernya.
Kenapa Luwu Timur ikut berkepentingan
Bagi Luwu Timur, permintaan itu bukan perkara jauh dari jendela. Kawasan tambang nikel Sorowako
berada di sekitar Danau Matano, dan aliran air dari kawasan danau Matano–Towuti bermuara ke
pesisir selatan Sulawesi. Artinya, apa pun yang masuk ke badan air di hulu berpotensi menempuh jalur
panjang sampai ke hilir.
Badan air yang sama juga menopang ekonomi lain. Danau Matano dan Towuti menjadi penopang
pariwisata daerah, mulai dari wisata perahu, pemandian, sampai penataan akses jalan lingkar danau.
Penataan itu terus berjalan dan menjadi harapan baru bagi warga pesisir (baca juga:
Destinasi Luwu Timur: Matano Belt Road Buka Akses Pesisir).
Karena itu, kualitas air bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan juga aset ekonomi yang menopang
pendapatan warga di luar sektor tambang.
Kawasan ini juga sedang tumbuh dari sisi industri. Vale mengembangkan proyek pertumbuhan
(Indonesia Growth Project) di Sorowako, Pomalaa, dan Morowali, sebagian di antaranya memakai
teknologi high pressure acid leaching (HPAL) untuk mengolah bijih nikel kadar rendah menjadi
mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara untuk rantai baterai. Proyek semacam ini
menaikkan nilai tambah, tetapi juga menambah volume material yang harus dikelola.
Di sisi izin produksi, blok Sorowako justru mendapat perlakuan berbeda dari dua blok Vale lainnya.
Berdasarkan laporan keuangan interim perseroan, Sorowako memperoleh kuota penuh sesuai yang diajukan
pada RKAB awal 2026, sedangkan alokasi untuk Pomalaa dan Bahodopi hanya sekitar 30 persen dari usulan
dan masih menunggu penyelesaian revisi RKAB. Anggota Komisi XII DPR RI Ramson Siagian pun mendesak
pemerintah mempercepat penyelesaian RKAB perusahaan di lingkungan MIND ID agar pasokan bahan baku
proyek hilirisasi tidak terhambat, sebagaimana diberitakan
ANTARA
pada 18 September 2026.
Kombinasi itu membuat Sorowako berada di dua tekanan sekaligus: tuntutan menambah nilai tambah
dari bijih, dan tuntutan memastikan air di sekitarnya tidak tercemar. Isu neraca air di kawasan
tambang ini bukan hal baru bagi warga setempat (baca juga:
Tambang Luwu Timur: Neraca Air Sorowako 2.0 Disorot).


