Senin, 2 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Advertorial

PAN Luwu Timur: Haul Ke-6 Pendiri Ponpes Nurul Junaidiyah

30 Oktober 2026 • Admin • 30 kali dibaca
PAN Luwu Timur: jamaah dan santri mengikuti haul ke-6 pendiri Ponpes Nurul Junaidiyah Lauwo di Kecamatan Burau
Gambar: Dok. Luwuraya.com (haul ke-6 pendiri Ponpes Nurul Junaidiyah Lauwo, Desa Lauwo, Burau, 25 Oktober 2026).
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, BURAU — PAN Luwu Timur kembali tercatat dalam agenda pendidikan pesantren. Anggota DPRD Kabupaten Luwu Timur dari Fraksi PAN, Nurcholish Aziz, mengenang nilai keikhlasan yang diajarkan ayahnya, almarhum H. Abdul Aziz Rajmal, dalam merintis Pondok Pesantren Nurul Junaidiyah Lauwo. Kenangan itu disampaikan pada peringatan haul ke-6 pendiri pesantren tersebut di Desa Lauwo, Kecamatan Burau, Sabtu (25/10/2026).

Nurcholish bukan hanya anggota dewan. Ia adalah putra kandung almarhum sekaligus pimpinan Ponpes Nurul Junaidiyah Lauwo. Posisi ganda itu membuat peringatan haul di pesantrennya berlangsung sebagai dua hal sekaligus: ruang mengenang pendiri, dan ruang menegaskan bahwa lembaga yang didirikan pada masa keterbatasan itu masih berjalan.

Dalam sambutannya di hadapan jamaah, ia menceritakan perjuangan ayahnya membangun pesantren di tengah berbagai keterbatasan. Baginya, perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari warisan yang perlu dijaga dan dilanjutkan.

PAN Luwu Timur dan pesan keikhlasan dari pendiri pesantren

“Almarhum ayahanda mengajarkan kami arti keikhlasan dalam berjuang. Beliau tidak pernah lelah berdakwah meski dalam kondisi sulit. Apa yang ada di pondok ini adalah buah dari doa dan kerja keras beliau,” ungkap Nurcholish di hadapan jamaah, seperti dikutip Luwuraya.com.

Pernyataan itu sederhana, tetapi menjelaskan satu hal tentang pendidikan pesantren di daerah: lembaga seperti Nurul Junaidiyah tidak lahir dari anggaran besar, melainkan dari kerja bertahun-tahun. Karena itu, peringatan haul di pesantren sering berfungsi sebagai rapat keluarga besar — mengenang yang telah meninggal, sekaligus menagih yang masih hidup untuk melanjutkan.

Dalam konteks Luwu Timur, pesantren memegang peran yang cukup nyata dalam layanan pendidikan. Selain sekolah formal milik pemerintah dan swasta, pesantren menyediakan jalur pendidikan yang memadukan ilmu umum dan ilmu keagamaan, termasuk pengajaran tahfiz dan kajian kitab. Peran itu tidak selalu terlihat dalam statistik pendidikan, tetapi terasa di desa-desa.

Fraksi PAN di DPRD Kabupaten Luwu Timur sendiri memiliki lima kursi pada periode 2024–2029. Susunan fraksi dan penempatan anggotanya pada alat kelengkapan dewan dapat diperiksa pada laporan Sarambang.id. Nurcholish Aziz tercatat sebagai anggota Fraksi PAN dari daerah pemilihan Luwu Timur 3, Wotu–Burau, dengan posisi Sekretaris Komisi I Bidang Pemerintahan.

Rangkaian haul: ziarah, kelas baru, dan bibit alpukat

Haul ke-6 itu tidak berhenti pada ceramah dan doa bersama. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ziarah bersama ke makam H. Abdul Aziz Rajmal. Ziarah menjadi bagian yang lazim dalam tradisi haul, terutama di pesantren yang didirikan oleh keluarga pendiri.

Setelah ziarah, kegiatan dirangkai dengan pemotongan pita sebagai tanda peresmian bangunan kelas baru santri. Peresmian ruang kelas itu menjadi bagian dari pengembangan fasilitas pendidikan di pesantren tersebut, dan dalam banyak kasus menjadi penanda paling konkret dari sebuah haul: ada bangunan yang bisa dipakai keesokan harinya.

Rangkaian ditutup dengan penanaman bibit alpukat di lingkungan pesantren. Penghijauan lingkungan pesantren bukan hal baru, tetapi pilihan tanaman produktif seperti alpukat biasanya dikaitkan dengan dua tujuan: peneduh dan, jika berbuah, sumber tambahan bagi pesantren.

Kegiatan itu dihadiri Wakil Bupati Luwu Timur, Puspawati Husler, Kepala Kantor Kementerian Agama Luwu Timur, Rusdidaming, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, anggota DPRD Luwu Timur Harisal dan Abdul Halim, Camat Burau Darlin, unsur TNI/Polri, serta santri dan orang tua santri.

Kehadiran wakil bupati dan kepala kantor kementerian agama menunjukkan posisi pesantren dalam struktur layanan publik di daerah. Pesantren tidak berdiri di luar sistem: ia berhubungan dengan Kementerian Agama untuk urusan keagamaan dan pendidikan, dengan pemerintah daerah untuk fasilitas dan pembinaan, serta dengan desa untuk lingkungan sekitar.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga