Senin, 2 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Advertorial

Andi Amar dan Kader Muda untuk Koperasi Desa Luwu Timur

25 Oktober 2026 • Admin • 60 kali dibaca
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

Suaralutim.com, Luwu Timur – Koperasi desa di Luwu Timur tumbuh lebih cepat daripada jumlah orang yang siap mengelolanya. Dari 128 desa dan kelurahan di kabupaten ini, sebanyak 77 koperasi desa/kelurahan Merah Putih sudah memiliki bangunan fisik yang rampung hingga 29 September 2026, sementara enam unit masih dalam proses pembangunan dan 68 koperasi sudah menerima kendaraan operasional. Angka itu menempatkan Luwu Timur dalam tiga besar daerah dengan pembangunan Koperasi Merah Putih terbanyak di Sulawesi Selatan.

Persoalannya, bangunan dan kendaraan hanya separuh pekerjaan. Begitu gerai koperasi beroperasi, yang menentukan adalah orang di belakang meja: yang mencatat stok, menyusun harga, merapikan pembukuan, dan menjaga kepercayaan anggota. Di titik itulah nama Andi Amar Ma’ruf Sulaiman relevan bagi pembaca Luwu Timur, bukan karena ia wakil rakyat dari daerah ini, melainkan karena ia memimpin organisasi yang setiap tahun melatih pengusaha muda Sulawesi Selatan.

Luwu Timur dan 77 Koperasi Desa yang Sudah Berdiri

Angka itu disampaikan Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, ketika membuka Pekan Expo Koperasi dan UMKM tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Lapangan Iniaku, Sorowako, Kecamatan Nuha. Rinciannya: 77 koperasi sudah punya bangunan fisik, enam masih dibangun, dan 68 unit telah menerima kendaraan operasional untuk mengangkut barang serta hasil bumi warga. Pemkab mencatat capaian itu sebagai salah satu yang terbesar di provinsi. Rincian angka ini dilaporkan Inputrakyat.co.id, 6 Oktober 2026.

Dua hari setelah pembukaan expo, pemerintah kabupaten menggelar Seminar Perkoperasian di Gedung Ontae Luwu, Sorowako, Kamis (8/10/2026). Forum itu dihadiri kepala dinas koperasi dan UMKM dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan, anggota DPRD Luwu Timur yang juga Ketua Dekopinda Lutim Wahidin Wahid, para camat, kepala desa, dan ketua koperasi desa se-Luwu Timur. Di forum itulah Bupati menegaskan posisi daerah ini.

“Dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, Luwu Timur ini merupakan salah satu yang memiliki jumlah Koperasi Merah Putih terbanyak,” kata Irwan, seperti dilaporkan Patikala.com.

Bukan hanya koperasi desa. Luwu Timur juga mendapat porsi pembangunan Koperasi Nelayan Merah Putih, dan sembilan unit di antaranya sedang dalam proses pembangunan. Pemerintah kabupaten mengusulkan tambahan sembilan unit lagi untuk wilayah pesisir, daerah yang selama ini bergantung pada hasil tangkapan dan penjualan ikan segar.

Mengapa Bangunan Saja Tidak Cukup

Skala nasional menunjukkan arah yang sama. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, dalam laporan ANTARA, menyebutkan 10.070 koperasi desa/kelurahan Merah Putih telah beroperasi, sementara 28.662 bangunan koperasi sudah rampung. Pemerintah menargetkan jumlah bangunan yang selesai naik menjadi sekitar 35 ribu hingga 40 ribu unit pada akhir 2026. Artinya, dalam hitungan bulan, ribuan gerai baru akan menuntut pengelola di tingkat desa.

Data Kementerian Koperasi memberi gambaran yang lebih konkret. Sebanyak 2.757 koperasi desa/kelurahan Merah Putih sudah menjalankan kegiatan usaha sejak 2025, meski belum seluruhnya mendapat dukungan bangunan dan gerai. Berdasarkan data dashboard Simkopdes yang dilansir ANTARA per 16 Oktober 2026, tercatat 85.427 transaksi dengan nilai total Rp208,64 miliar sepanjang 2026. Beras medium menjadi produk dengan nilai transaksi tertinggi, disusul minyak goreng.

Transaksi sebesar itu tidak bisa dijalankan dengan buku catatan seadanya. Koperasi yang menjual kebutuhan pokok bersubsidi harus mencatat persediaan, menghitung harga jual, menyetor laporan, dan menjaga selisih kas tetap nol. Koperasi yang menyalurkan hasil bumi petani harus paham kualitas, waktu panen, dan harga pembeli. Semua itu keterampilan, bukan bangunan.

Di sinilah pengalaman usaha kecil di Luwu Timur punya nilai. Banyak pedagang di Malili, Tomoni, Wotu, dan Nuha sudah bertahun-tahun berdagang tanpa badan usaha. Mereka tahu pasar, tetapi belum tentu tahu menyusun laporan keuangan yang bisa dibaca bank atau pengawas.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga