Dari Expo ke Pasar yang Berkelanjutan
Expo Koperasi–UMKM Sulawesi Selatan yang digelar 6–10 Oktober 2026 di Lapangan Iniaku, Sorowako, menjadi etalase bagi produk lokal Luwu Timur. Kegiatan itu mempertemukan pelaku usaha, koperasi, perbankan, dan perwakilan kabupaten/kota. Bagi pelaku usaha mikro, ajang seperti ini berguna untuk menguji pasar: produk apa yang diminati, kemasan seperti apa yang menarik, dan harga seperti apa yang masih diterima pembeli.
Namun expo hanya titik awal. Setelah kegiatan selesai, pertanyaannya berubah: apakah produk yang dipamerkan bisa masuk ke toko, koperasi, atau pasar daring secara rutin? Di sinilah peran koperasi desa dan BUMDes menjadi penting, karena merekalah yang memiliki struktur organisasi dan dapat menjadi penampung produk warga.
Pemkab Luwu Timur sendiri menargetkan 1.000 wirausaha baru setiap tahun. Target itu menjadi kerangka bagi program pelatihan bagi pelaku usaha mikro. Jika target tersebut hanya diukur dari jumlah peserta pelatihan, hasilnya mudah terlihat di laporan. Tetapi jika diukur dari usaha yang bertahan setelah satu atau dua tahun, pekerjaan menjadi jauh lebih berat.
Karena itu, peran Komisi II bukan hanya menyetujui anggaran pelatihan. Komisi II juga perlu memastikan pelatihan diarahkan pada kebutuhan pasar, bukan pada jenis pelatihan yang mudah dilaksanakan. Pelaku usaha yang sudah berjalan butuh pendampingan sertifikasi, kemasan, dan akses pembiayaan. Sementara pelaku usaha baru butuh pendampingan dasar, mulai dari pencatatan keuangan hingga pemasaran.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Wotu–Burau dan Ekonomi yang Bertumpu pada Warga
Di Wotu dan Burau, ekonomi warga bertumpu pada pertanian, perdagangan, dan usaha jasa. Koperasi desa dan BUMDes bisa menjadi simpul yang menghubungkan hasil pertanian dengan pasar, terutama jika ada pengolahan sederhana dan penyimpanan yang memadai. Tanpa simpul itu, hasil panen dijual cepat dengan harga yang ditentukan pembeli.
Juddin, sebagai legislator dari daerah pemilihan tersebut, berada pada posisi untuk mendorong agar program koperasi tidak hanya tumbuh di wilayah yang sudah ramai, tetapi juga di kecamatan yang lebih jauh dari pusat kegiatan. Ini bukan pekerjaan sekali jadi. Ia menuntut pendataan anggota, pelatihan pengurus, dan pendampingan usaha yang berkelanjutan.
Yang bisa dilakukan publik untuk mengawal agenda ini sederhana: menanyakan realisasi program, memeriksa apakah koperasi di desanya benar-benar berjalan, dan menyampaikan persoalan kepada wakil rakyat melalui jalur resmi. Koperasi yang sehat tidak lahir dari seremoni, tetapi dari transaksi harian yang tercatat dan anggota yang merasa dilayani.
Mengapa Isu Ini Relevan bagi Warga Luwu Timur
Koperasi desa bukan sekadar proyek pemerintah. Ia bisa menjadi cara untuk menahan uang di desa. Ketika warga membeli kebutuhan pokok dari koperasi desa, keuntungan usaha kembali ke kas koperasi dan pada akhirnya ke anggota. Sebaliknya, jika koperasi hanya menjadi bangunan tanpa aktivitas, manfaatnya tidak terasa.
Di sisi lain, koperasi juga menghadapi tantangan nyata: keterbatasan modal, pengurus yang merangkap pekerjaan, dan persaingan dengan toko besar. Karena itu, dukungan pemerintah daerah perlu berbentuk teknis, bukan hanya seremoni. Pelatihan pembukuan, pendampingan perizinan, dan akses ke pemasok resmi adalah contoh dukungan yang langsung menyentuh operasional.
Fraksi PAN di DPRD Luwu Timur telah menempatkan anggotanya di Komisi II, Badan Anggaran, dan Bapemperda. Kombinasi itu memungkinkan isu koperasi dibahas dari sisi program maupun dari sisi regulasi. Bagi warga, yang perlu dilihat adalah hasilnya: koperasi yang berjalan, pelaku usaha yang naik kelas, dan pasar yang lebih terbuka bagi produk lokal.
FAQ
Siapa Juddin dari Fraksi PAN DPRD Luwu Timur?
Juddin adalah anggota Fraksi PAN DPRD Kabupaten Luwu Timur yang menjabat Sekretaris Komisi II Bidang Ekonomi, anggota Badan Anggaran, dan mewakili daerah pemilihan Luwu Timur 3 (Wotu–Burau).
Apa itu KDMP Sorowako?
KDMP Sorowako adalah Koperasi Desa Merah Putih di Kecamatan Nuha yang menjual produk UMKM lokal dan barang subsidi pemerintah. Koperasi ini memiliki sekitar 500 anggota dan telah mencatat penjualan beras serta minyak goreng dari Bulog sekitar Rp1 miliar, berdasarkan keterangan Menteri Koperasi pada Oktober 2026.
Mengapa koperasi desa penting bagi ekonomi Luwu Timur?
Karena koperasi dapat menjadi penampung produk warga, penyedia kebutuhan pokok, dan simpul pemasaran yang menahan nilai tambah di desa. Keberhasilannya bergantung pada tata kelola, pendampingan, dan transaksi yang berjalan rutin.
Penutup
PAN Luwu Timur memilih menempatkan anggotanya di komisi yang bersentuhan langsung dengan ekonomi warga. Bagi Juddin, ujiannya bukan pada pidato, tetapi pada apakah koperasi di Wotu–Burau dan kecamatan lain bisa berjalan setelah program diluncurkan. Jika koperasi desa tumbuh, manfaatnya akan terasa pada hal-hal kecil: harga kebutuhan pokok yang lebih stabil, hasil panen yang punya pembeli, dan usaha warga yang bertahan.
Sumber: Patikala.com, “Menteri Koperasi Apresiasi Aktivitas Usaha KDMP Sorowako” (10 Oktober 2026); Keputusan DPRD Kabupaten Luwu Timur Nomor 24 Tahun 2024 tentang susunan alat kelengkapan dewan; KPU Kabupaten Luwu Timur, penetapan calon terpilih DPRD 2024; publikasi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur tentang target 1.000 wirausaha per tahun.
Baca juga
- PAN Luwu Timur: Indeks Desa dan Prioritas APBD 2027
- PAN Luwu Timur Dorong Data Kartu Lansia Diperbarui
- HIPMI Sulawesi Selatan dan Peluang Pakan Ternak Luwu Timur
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


