Senin, 2 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Advertorial

UMKM Luwu Timur, Pasar Rakyat, dan Dorongan Andi Amar

2 November 2026 • Admin • 18 kali dibaca
Pengunjung mencicipi produk UMKM pada gelaran pasar rakyat yang menjadi ruang usaha baru bagi UMKM Luwu Timur
Dok. Kemenko PM via Akurat.co (pengunjung menjajal produk UMKM pada 1001 Pasar Rakyat di Depok, 1 November 2026)
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Nasib UMKM Luwu Timur tidak hanya ditentukan modal, harga bahan baku, atau kepiawaian berjualan daring. Ada faktor yang lebih sederhana tetapi sering luput: ada atau tidaknya tempat berjualan yang layak, dekat keramaian, dan terjangkau oleh pedagang kecil.

Persoalan itu kembali mencuat pada awal November 2026. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, mendorong pemerintah daerah memanfaatkan fasilitas umum dan ruang terbuka sebagai tempat tumbuh usaha kecil. Dorongan disampaikan pada kegiatan 1001 Pasar Rakyat di Kota Depok, Jawa Barat, Minggu (1/11/2026).

Di Bumi Batara Guru, ruang usaha rakyat sebenarnya sudah lama hidup: pujasera di Towuti, pasar harian di Malili, sampai gerai oleh-oleh di lingkar tambang Sorowako. Yang belum selesai adalah bagaimana ruang-ruang itu dirawat dan dihubungkan dengan pasar yang lebih luas.

Mengapa Ruang Publik Menentukan Hidup UMKM Luwu Timur

Bagi pedagang kecil, lokasi adalah separuh usaha. Produk yang sama bisa laku atau tidak laku hanya karena lapak berpindah lima puluh meter. Kebijakan menyediakan ruang berjualan di fasilitas umum karena itu bukan sekadar urusan penataan kota, melainkan kebijakan ekonomi yang menyentuh pendapatan rumah tangga.

Tata Atur
Iklan

Pasar rakyat memberi tiga hal yang sulit diperoleh pedagang mikro dari kanal lain: biaya masuk jauh lebih ringan dibanding menyewa ruko, lalu lintas pembeli sudah terbentuk oleh aktivitas warga sehari-hari, dan pertemuan langsung antara penjual dan pembeli sehingga pedagang bisa menguji rasa, kemasan, serta harga tanpa biaya riset.

Ketiganya penting bagi usaha di Luwu Timur yang sebagian besar berskala mikro: pelaku umumnya tidak punya kas menyewa tempat strategis, tetapi responsif ketika pasar datang menghampiri. Saat ruang publik dibuka, yang bertambah bukan hanya transaksi, melainkan keberanian menambah stok dan tenaga kerja.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Apa yang Dikatakan Menko PM soal 1001 Pasar Rakyat

Dalam pemberitaan Akurat.co, Muhaimin Iskandar menegaskan ruang yang tersedia di tengah masyarakat berpotensi dikembangkan menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus membuka akses pasar lebih luas bagi pelaku usaha lokal.

“Saya harapkan seluruh kota-kota, seluruh kabupaten gunakan fasilitas umum untuk UMKM sebanyak-banyaknya. Bikin 1001 Pasar Rakyat sebanyak-banyaknya. Insyaallah UMKM kita akan maju sebaik-baiknya,” ujar Muhaimin, dikutip Akurat.co, 1 November 2026.

Kegiatan di Depok merupakan lanjutan gelaran serupa di kawasan perumahan Vida, Bekasi. Di Bekasi yang diangkat potensi kawasan perumahan, di Depok gagasannya diperluas ke fasilitas umum: ruang publik tidak berhenti sebagai tempat berkumpul, tetapi dihidupkan sebagai titik temu pedagang dan konsumen.

Pemberitaan itu juga mencatat syarat yang menyertai kebijakan tersebut. Terbukanya ruang berjualan perlu diiringi peningkatan mutu produk. Ruang hanya pintu masuk; setelah pembeli datang, kualitas yang menentukan apakah mereka kembali.

Jejak Ruang Usaha Rakyat di Luwu Timur

Di Luwu Timur, gagasan ruang publik sebagai pasar bukan hal baru. Beberapa titik sudah berjalan, sebagian bahkan baru saja dibenahi pemerintah daerah.

Titik Bentuk Keterangan terverifikasi
Pujasera Wawondula, Towuti Ruang jual pedagang kecil Ditinjau Bupati Irwan Bachri Syam, 16 Oktober 2026; Satpol PP diminta membersihkan kawasan, Camat Towuti membenahi halaman
Pasar Malili Pasar rakyat harian Aksi bersih-bersih lintas perangkat daerah, 23 Oktober 2026, melibatkan Disdakop, DLH, dan Satpol PP
Rumah Oleh-Oleh Telaloa, Desa Magani, Nuha Etalase produk UMKM Diresmikan 5 Oktober 2026; kanal pemasaran 127 UMKM binaan; buka Senin-Sabtu pukul 09.00-17.00 WITA
Towuti Night Market, Wawondula Pasar malam dan festival kuliner Berlangsung 3-31 Oktober 2026, setiap hari pukul 16.00-23.00 WITA

Pujasera Wawondula dan Pasar Malili

Penataan Pujasera Wawondula menunjukkan bahwa ruang publik untuk UMKM tidak cukup dibangun, tetapi harus dirawat. Saat meninjau lokasi pada 16 Oktober 2026, bupati menilai kawasan itu tampak kumuh dan meminta Satpol PP membersihkannya agar daya tampung pedagang bertambah. Pedagang di sekitar Masjid Al-Musafir diarahkan berpindah ke pujasera yang sudah disiapkan.

Sepekan kemudian, Pasar Malili menjadi sasaran aksi bersih-bersih lintas perangkat daerah pada 23 Oktober 2026. Disdakop Luwu Timur bergerak bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Satpol PP. Kepala Disdakop Luwu Timur, Senfry Oktavianus, menyatakan kegiatan itu penting agar tempat masyarakat menjual dagangan tidak terlihat kumuh dan pembeli tidak terganggu. Kebersihan pasar karena itu bukan urusan estetika, melainkan penentu berapa lama pembeli tinggal dan berapa banyak transaksi terjadi.

Telaloa, Etalase 127 UMKM Lingkar Tambang

Contoh lain datang dari kawasan lingkar tambang. PT Vale Indonesia Tbk meresmikan Rumah Oleh-Oleh Telaloa di Desa Magani, Kecamatan Nuha, pada 5 Oktober 2026. Fasilitas itu menjadi kanal pemasaran bagi 127 UMKM binaan yang tersebar di empat kecamatan: Nuha, Towuti, Wasuponda, dan Malili. Sebanyak 49 UMKM potensial lain sedang disiapkan masuk program pembinaan.

Head of External Relations Sorowako & Outer Area Vale Indonesia, Yusri Yunus, menyatakan pembinaan UMKM harus berjalan beriringan dengan pembukaan akses pasar. “Kami berharap pendampingan dan penyediaan fasilitas melalui Pusat Oleh-Oleh Telaloa ini dapat membantu pelaku usaha lokal mengembangkan usahanya,” ujarnya, dikutip ANTARA News Sulawesi Tenggara, 5 Oktober 2026. Rincian program juga tercatat di laman resmi Vale Indonesia.

Camat Nuha, Arief Fadillah Amier, menilai pusat oleh-oleh itu sebagai bentuk kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat. Menurutnya, komunikasi diperlukan agar semakin banyak produk lokal bisa masuk dan dipasarkan di sana.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga