Iklan
SUARALUTIM.COM, MALILI — PAN Luwu Timur menempatkan pendidikan pesantren sebagai bagian dari agenda penguatan sumber daya manusia di daerah. Salah satu penandanya terlihat pada silaturahmi Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, bersama para pimpinan pondok pesantren dan madrasah se-Kabupaten Luwu Timur di Rumah Kaca, kediaman Bupati, Selasa (13/10/2026). Pertemuan itu membahas persiapan Hari Santri Nasional yang diperingati Kamis (22/10/2026).
Dalam forum tersebut hadir Anggota DPRD Luwu Timur, Nurchalis Azis, M.Pd, yang duduk sebagai anggota Fraksi PAN dan menjabat Sekretaris Komisi I Bidang Pemerintahan. Kehadiran legislator dari Fraksi PAN di ruang pertemuan itu menandai satu hal: aspirasi pesantren memiliki jalur ke parlemen daerah, tidak berhenti di meja birokrasi.
Bagi Luwu Timur, pilihan menjadikan pesantren sebagai mitra kebijakan bukan langkah tanpa dasar. Sebelumnya, persiapan peringatan tahun ini juga dibahas dalam laporan mengenai rencana pemusatan Hari Santri Nasional. Jumlah lembaga dan santrinya cukup besar, dan perannya menyentuh pendidikan, pembinaan karakter, serta kegiatan keagamaan di tingkat desa.
PAN Luwu Timur dan Peta Pendidikan Keagamaan
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Luwu Timur, Rusdidaming, dalam pertemuan itu melaporkan bahwa terdapat 86 lembaga pendidikan yang dibina Kementerian Agama di Luwu Timur. Jumlah santri dan siswa yang terlayani diperkirakan sekitar 8.000 orang, tersebar di seluruh kecamatan.
Angka itu menjelaskan mengapa kebijakan pendidikan tidak cukup berbicara tentang sekolah negeri. Sebagian warga Luwu Timur menitipkan pendidikan anaknya ke pesantren dan madrasah, termasuk yang berada di kecamatan jauh dari pusat pemerintahan.
Dalam struktur Fraksi PAN DPRD Luwu Timur, lima kursi ditempati sejumlah nama yang tersebar di daerah pemilihan. Nurchalis Azis, M.Pd sendiri berasal dari Dapil Luwu Timur 3 yang mencakup Kecamatan Wotu dan Burau, dan bekerja di Komisi I Bidang Pemerintahan.
Komisi I membidangi pemerintahan, termasuk sebagian urusan yang bersinggungan dengan layanan pendidikan dan keagamaan. Karena itu, posisi itu relevan ketika usulan pesantren masuk ke pembahasan kebijakan dan anggaran.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Hari Santri Nasional Dipusatkan di Tingkat Kabupaten
Pada pertemuan 13 Oktober 2026, para ustadz dan pimpinan pondok meminta agar peringatan Hari Santri Nasional tahun ini kembali dipusatkan di tingkat kabupaten. Tahun sebelumnya, kegiatan dilaksanakan terpisah di masing-masing pondok pesantren.
Bupati Irwan Bachri Syam menyetujui usulan tersebut dan memerintahkan agar peringatan Hari Santri Nasional diselenggarakan secara terpusat di tingkat kabupaten. Keputusan itu diambil dalam forum yang sama, di hadapan para pimpinan lembaga pendidikan Islam.
Pemusatan kegiatan memiliki efek praktis. Selain menghemat biaya perjalanan bagi pondok yang jauh dari Malili, forum terpusat memungkinkan pemerintah daerah dan Kementerian Agama bertemu langsung dengan seluruh pimpinan lembaga dalam satu waktu.
Bagi Fraksi PAN, agenda semacam ini penting karena menjadi ruang mendengar keluhan lapangan. Persoalan pesantren jarang bersifat spektakuler: ada yang menyangkut rehabilitasi ruang belajar, ada yang menyangkut akses air bersih, ada pula yang berkaitan dengan kesejahteraan pengajar.
Usulan Pesantren dan Jalur Anggaran
Dalam pertemuan itu, Bupati mengajak pimpinan lembaga pendidikan keagamaan aktif menyampaikan usulan dan proposal ke pemerintah daerah, baik yang masuk dalam pembahasan APBD maupun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Ajakan itu menegaskan bahwa usulan warga menjadi dasar pemerintah bertindak.
Pernyataan tersebut juga menyebut prioritas rehabilitasi masjid di sepanjang jalan poros kabupaten agar layak digunakan jamaah dan menjadi tempat istirahat yang layak bagi musafir. Kebijakan seperti ini menyentuh langsung kawasan pesantren yang biasanya tumbuh di tepi jalan penghubung antarkecamatan.
Selain itu, Bupati memperkenalkan program unggulan “Pejuang Subuh” yang mendorong siswa sekolah negeri rutin melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid terdekat. Program itu akan disinergikan dengan partisipasi santri pondok pesantren, dan guru pendidikan agama Islam yang konsisten membina akan diundi setiap bulan untuk kesempatan beribadah ke Tanah Suci.
Sinergi semacam itu menunjukkan pendidikan keagamaan tidak berjalan sendiri. Pesantren, sekolah, masjid, dan pemerintah daerah saling terhubung dalam satu ekosistem pembinaan karakter.


