SUARALUTIM.COM, MAHALONA — Pariwisata lutim tidak hanya soal pemandangan danau. Di balik setiap perjalanan menuju destinasi, ada jalan dan jembatan yang menentukan apakah kunjungan bisa berlangsung nyaman atau justru berisiko. Persoalan itulah yang menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Luwu Timur pada peninjauan infrastruktur di Kecamatan Towuti, Rabu (14/10/2026).
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, meninjau langsung kondisi Jembatan Loppe di Desa Mahalona serta pengerjaan jalan beton penghubung SP1 sampai SP3 antara Desa Libukan Mandiri dan Desa Buangin. Kedua titik itu berada di jalur yang menghubungkan permukiman warga dengan kawasan usaha pertanian dan perkebunan di Kecamatan Towuti.
Di kecamatan yang sama, pemerintah kabupaten juga mengembangkan sejumlah destinasi pariwisata. Karena itu, pembenahan akses di kawasan ini selalu punya dua sisi: memperlancar mobilitas warga, sekaligus membuka jalan yang lebih baik bagi kunjungan wisata.
Pariwisata Lutim dan Persoalan Akses di Kawasan Towuti
Kecamatan Towuti berada di sisi timur Danau Towuti, danau terbesar di Sulawesi. Kawasan ini menyimpan sejumlah objek yang sudah lama dikenal, mulai dari pantai tepi danau hingga kawasan konservasi. Data objek wisata Kabupaten Luwu Timur menempatkan Kecamatan Towuti sebagai salah satu kecamatan dengan sebaran destinasi paling banyak.
Salah satu yang paling penting adalah Taman Wisata Alam Danau Mahalona dengan luas 2.289,30 hektare, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.6590/Menhut-VII/KUH/2014. Penetapan kawasan konservasi itu menandakan bahwa fungsi perlindungan alam dan fungsi rekreasi berjalan berdampingan. Rincian kawasan itu dapat dibaca pada laman Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan.
Di desa-desa pesisir Towuti juga tercatat titik wisata yang menjadi rujukan warga, seperti Pantai Siuone di Desa Pekaloa, Permandian Bukit Kasih, serta Pulau Wasubonti di Desa Bantilang dan Air Terjun Mata Dewa di Loeha. Sebagian titik itu hanya bisa dijangkau melalui perairan, sehingga perjalanan darat dan perjalanan air saling melengkapi.
Di sisi jalan, konektivitas antardesa menjadi faktor pertama yang menentukan. Ketika jembatan rusak, waktu tempuh meningkat, dan perjalanan menjadi lebih berat bagi warga maupun pengunjung. SuaraLutim pernah mengulas pembangunan jalan penghubung menuju kawasan ini dalam artikel jalan Mahalona-Bantilang senilai Rp27 miliar.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Apa yang Ditemukan di Jembatan Loppe
Jembatan Loppe masih menggunakan konstruksi kayu dan sudah mengalami kerusakan. Kondisi itu membuat bupati menyatakan akan mengupayakan agar pembangunannya masuk dalam anggaran pokok tahun 2027.
“Jembatan Loppe ini merupakan akses utama yang sangat dibutuhkan masyarakat. Setelah melihat langsung kondisinya, kita akan mengupayakan agar pembangunan jembatan ini masuk dalam anggaran pokok tahun 2027,” kata Irwan.
Pejabat Fungsional Teknik Tata Bangunan dan Perumahan Ahli Muda pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Luwu Timur, Agustinus Allu, menjelaskan bahwa jembatan tersebut direncanakan dibangun permanen dengan bentang sekitar 20 meter agar bisa menunjang akses transportasi warga.
Sementara itu, Anggota Badan Permusyawaratan Desa Mahalona, Safril, menyampaikan bahwa struktur jembatan yang mulai lapuk dan berlubang kerap menyulitkan saat warga mengangkut hasil pertanian. Ia juga menyampaikan kebutuhan pompa air untuk pengairan sawah pada musim kemarau.
Terpisah dari jembatan, pengerjaan jalan beton di Desa Buangin masih berlangsung. Panjang pengerjaan sekitar tiga kilometer, dan pemerintah kabupaten berharap pekerjaan itu selesai tepat waktu agar segera dimanfaatkan masyarakat.
Kapan Waktu Terbaik Menjelajah Towuti
Bagi warga yang merencanakan perjalanan ke kawasan Towuti, waktu kunjungan perlu diperhitungkan bersama kondisi jalan dan cuaca. Pada pagi hingga siang hari, pencahayaan danau biasanya paling nyaman untuk menikmati panorama serta perjalanan perahu.
Musim hujan yang umumnya mulai datang pada November hingga awal tahun dapat memengaruhi kenyamanan perjalanan darat. Karena itu, calon pengunjung sebaiknya memastikan kondisi jalan terkini serta memperhitungkan waktu tempuh antar kecamatan, yang di Luwu Timur relatif panjang.
Untuk objek wisata yang berada di sisi perairan, perjalanan air biasanya menjadi satu-satunya pilihan. Kewaspadaan tetap diperlukan, terutama saat angin danau menguat atau jarak pandang menurun.
SuaraLutim juga pernah merangkum panduan destinasi di kawasan lain, seperti penjelajahan TWA Danau Mahalona dan panduan Air Terjun Mata Buntu Asri di Kecamatan Wasuponda.


